Sabtu, 08 Januari 2011

Makalah Studi Lapangan

i
MAKALAH STUDI LAPANGAN
ORGANISASI SOSIAL DAN KEBUDAYAAN KELOMPOK
MINORITAS INDONESIA:
Studi Kasus Masyarakat Orang Rimba di Sumatra
(Orang Kubu Nomaden)
THE SOCIAL ORGANISATION AND CULTURE OF A
MINORITY GROUP IN INDONESIA:
A Case Study of the Orang Rimba in Sumatra
(The Nomadic Kubu Society)
PUSAT STUDI KEBUDAYAAN UGM
Disusun oleh :
Johan Weintré
UNE 201121789
Studi Lapangan Dilakukan Untuk Memenuhi Persyaratan Pendidikan
University of New England – Australia
PROGRAM STUDI INDONESIA
KERJASAMA PENDIDIKAN TERSIER INDONESIA – AUSTRALIA
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2003
ii
ORGANISASI SOSIAL DAN KEBUDAYAAN KELOMPOK
MINORITAS INDONESIA:
Studi Kasus Masyarakat Orang Rimba di Sumatra
(Orang Kubu Nomaden)
THE SOCIAL ORGANISATION AND CULTURE OF A
MINORITY GROUP IN INDONESIA:
A Case Study of the Orang Rimba in Sumatra
(The Nomadic Kubu Society)
PUSAT STUDI KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
Sebuah Laporan Studi Lapangan dari Sudut Sejarah dan Antropologi
Disusun oleh :
Johan Weintré
ikanperak@yahoo.com
Studi lapangan dilakukan untuk memenuhi persyaratan
Pendidikan Tersier - University of New England, Australia
Disetujui Oleh:
Dr. Heddy Shri Ahimsa-Putra
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2003
iii
KATA PENGANTAR
Untuk melengkapi studi lapangan beberapa pihak sudah banyak membantu pada
penulis secara direk maupun indirek dalam bentuk moral atau materil. Karena itu
dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih. Khususnya kepada staf
dan dosen University of New England di Armidale NSW, IAIN Sulthan Thaha
Syaifuddin Jambi, Universitas Jambi, LSM di Jambi, Perpustakaan Nasional di
Jakarta, Perpustakaan Antropologi UGM dan Pusat Studi Kebudayaan UGM.
Juga saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Drs. Rizalman, Dr. Muntolib,
Gaby dan Soedjatmoko dari SCTV. Amilda yang memberikan nasihat sebelum
dan sesudah studi lapangan mengenai Orang Rimba dan Agustiawany yang
memberikan saran mengenai interpretasi kebudayaan Indonesia.
Akhir penulis menyadari tulisan ini memiliki banyak kekurangan, karena itu
sangat diharapkan kritik dan saran yang konstruktif dari pembaca demi perbaikan
dan sekaligus memperbesar manfaat tulisan ini sebagai referensi.
Yogyakarta Desember 2003
Johan Weintré
ikanperak@yahoo.com
iv
INTISARI
Makalah ini mengenai kehidupan orang Rimba yang tinggal di tengah
hutan propinsi Jambi, Sumatera, yang memiliki gaya hidup tradisional, yaitu
hunters and gatherers, serta hidup berpindah-pindah.
Makalah ini menyajikan sejarah Sumatera pertengahan dan asal usul orang
Rimba, hubungan mereka dengan lingkungan, struktur sosial dan filosofi hidup
orang Rimba serta menyajikan situasi dan kondisi orang Rimba dewasa ini.
Makalah ini juga memasukkan beberapa hal yang berkaitan dengan kelompok
tetangga orang Rimba, yaitu orang Batin Sembilan yang sudah dibina oleh
pemerintah beberapa tahun yang lalu.
Penulis tertarik hipotesis antropologi sosial Radcliffe-Brown dan
Malinowski. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi
partisipasi, riwayat hidup (life-story), wawancara, penelitian arsip serta studi
pustaka. Studi lapangan yang dilakukan menggunakan metode diskriptif kualitatif.
Struktur masyarakat dikepalai seorang Temunggung, yang posisinya
diwarisi dari orangtua. Akan tetapi masyarakat memiliki kesempatan untuk
memilih Temenggung lain bila mereka tidak puas akan pemerintahannya.
Menurut kosmologi orang Rimba, dunia dibagi dua, yaitu dunia orang
Rimba dan dunia luar yang ditempati oleh orang Melayu (Terang). Dunia yang di
hormati atau dipuja adalah flora dan fauna tertentu dan daerah khusus. Mereka
memiliki dewi kebaikan dan dewi keburukan. Lingkungan hutan tradisional
v
adalah sumber material untuk bertahan secara fisik, maupun sumber filosofinya.
Orang Melayu berkampung dan memelihara ternak yang tabu untuk orang Rimba.
Pada saat pertama kali orang luar masuk daerahnya, beberapa dari mereka
terkena penyakit cacar yang menular dan sebagian dijadikan budak. Pada
pertengahan abad terakhir terjadi banyak perubahan di sekitar Bukit Duabelas.
Perubahan yang terjadi diantaranya kebijaksanaan transmigrasi pemerintah.
Kedatangan sejumlah besar perantau menyebabkan persaingan tanah lebih ketat.
Tanah tradisional orang Rimba menjadi lebih sempit, serta hasil perburuan yang
merupakan salah satu sumber makanan pokok orang Rimba juga menurun.
Program pembinaan orang Rimba oleh Departemen Kesejahteraan dan
Sosial berjalan kurang sesuai yang diinginkan. Walaupun ada kelompok yang
sudah dibina, masih ada kelompok yang bertekad untuk melestarikan cara hidup
tradisional mereka sebaik mungkin.
2
vi
ABSTRACT
This paper concerns an ethnic group known as the Orang Rimba (Forest
People), who are nomadic hunters and gatherers and live in the forest in Jambi,
Sumatra.
The author pays attention to the history of central Sumatra, the Orang
Rimba’s origin, their relationship with the environment, the social structure of
their society and their philosophy on life. Furthermore, the author will address
their current circumstances and conditions together with those of the Orang Batin
Sembilan, a neighbouring ethnic group who recently have been acculturated
through government assisted programs.
From a social anthropological perspective, the hypotheses of Malinowski
and Radcliffe-Brown, which analyse the social structure of a society, have been
influential in providing a basic framework for observation at the time of writing
this paper. Issues of factual and abstract nature were studied while on field
research in the Bukit Duabelas National Park. Data collection included participant
observation, interviews, life-history, archival research and library studies. This
paper is descriptive that is based on qualitative studies of the Orang Rimba.
The Temunggung is the community leader and is usually passed on from
father to son. Individual members have the opportunity to choose another leader,
if they are not satisfied with the current leadership.
The Orang Rimba cosmology divides the world in the world of the Orang
Rimba which is in contrast to the outside world inhabited by the Malays (Orang
vii
Terang). Specific flora and fauna including prominent landscape features are
revered. The forest environment is the essence of physical and philosophical life.
The Malays live in a village environment and are involved in animal husbandry.
These practices are considered taboo according to the Orang Rimba.
The first ethnographic notes described the Orang Kubu, a generic term for
traditional ethnic groups in Central Sumatra, as a group sufficiently satisfied with
their environment with almost no need to interact with the outside world. During
the last half century many changes have taken place around Bukit Duabelas, the
main survey area; like the influx of outsiders due to the transmigration policy of
the government. Migrants have caused greater competition for land and the
reduction of traditional hunting grounds with the result that their food catch has
been reduced. Although some have taken up the offer of acculturation, the
resettlement programs by the department of social welfare does not meet their
complete expectations of life. Some orang Rimba communities are determined to
preserve their traditional way of life as much as possible.
viii
DAFTAR ISI
Halaman Judul i
Halaman Pengesahan (Signatures) ii
KATA PENGANTAR iii
INTISARI iv
ABSTRACT vi
DAFTAR ISI viii
DAFTAR TABEL x
DAFTAR PETA xi
DAFTAR FOTO xii
BAB I PENDAHULAN 1
1. Latar Belakang Pemasalahan 1
2. Perumusan Masalah 6
3. Maksud, Tujuan dan Kegunaan Penelitian 8
4. Tinjauan Pustaka 10
5. Landasan Teori 14
6. Metode Penelitian 19
A. Persiapkan Studi Lapangan 19
B. Lokasi Studi Lapangan 21
C. Informan 27
D. Teknik Kumpul Data 28
BAB II SEJARAH 29
1. Prasejarah 29
2. Sejarah 31
3. Mitos dan Sejarah Lisan 35
ix
BAB III KEHIDUPAN ORANG RIMBA DAN BATIN SEMBILAN 40
1. Pola Pemukiman dan Lingkungan 41
2. Mata Pencarian 44
A. Makanan dan Hasil Hutan 44
B. Peralatan, Komunikasi & Seni 48
C. Pemunculan Inovasi 50
3. Sistem Kekerabatan 53
4. Kesehatan 58
5. Kepercayaan dan Kosmos orang Rimba 61
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 65
1. Kesimpulan 65
2. Saran 67
DAFTAR PUSTAKA 70
LAMPIRAN 74
x
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Jenis Tumbuhan Yang Bermanfaat Bagi Orang Rimba 74
Tabel 2. Jenis (Species) Buah-Buahan Yang Dimanfaatkan 75
Tabel 3. Jenis (Species) Tumbuhan Konssiae (Getah)Yang Dieksploitasi 75
Tabel 4. Kelompok Tumbuhan Tesie Hutan Komersial Yang Dieksploitasi 75
Tabel 5. Kelompok Species Tumbuhan Papan (Bangunan) Yang
Dimanfaatkan Untuk Rumah 76
Tabel 6. Jenis (Species) Tumbuhan Yang Dimanfaatkan Untuk Sumber
Pangan (Karbohidrat) 76
Tabel 7. Jenis (Species) Fauna Teristerial Yang Diburu dan Ditangkap 76
Tabel 8. Jenis (Species) Fauna Reptika dan Amphibie Yang Dimanfaatkan 77
Tabel 9. Jenis (Species) Fauna Burung Yang Dimanfaatkan 77
Tabel 10a. Jenis (Species) Tumbuhan Obat-Obatan Yang Dimanfaatkan
Orang Rimba Sungai Keruh dan Sungai Serdang 77
Tabel 10b. Jenis Tanaman Potensial di Taman Nasional Bukit Dua Belas
sebagai Bahan Baku Obat-Obatan (Hasil Penelitian Tim Fakultas
Kehutanan IPB Tahun 2000) 78
xi
DAFTAR PETA
Peta 1 Sumatera 79
Peta 2 Sumatera Tengah 80
Peta 3 Lokasi Penelitian Orang Rimba dan Orang Batin IX 81
Peta 4 Teori Transmigrasi Prasejarah Menurut Peter Bellwood 82
Peta 5 Lokasi Transmigrasi di Jambi Tahun 1982 83
xii
DAFTAR FOTO
Foto 1 Tempat kediaman sampaeon, Orang Rimba di bukit
Duabelas 84
Foto 2 Pohon dengan sarang tawon dengan tanda pemilikan 84
Foto 3 Sekolah Dasar khusus untuk orang Rimba di Air Hitam 85
Foto 4 Penulis duduk bersama dengan Tumenggung Tarip 85
Foto 5 Tempat Masak Orang Rimba 86
Foto 6 Kelompok Gera di Bukit Duabelas 86
Foto 7 Pemukiman Kelompok Gera di Bukit Duabelas 87
Foto 8 Pemukiman Kelompok Gera di Bukit Duabelas 87
Foto 9 Orang rimba menggarap ladangnya 88
Foto 10 Orang Rimba membagi hasil buruannya 88
Foto 11 Orang Koeboe di Ajer Itam Jambi tahun 1915 89
Foto 12 Orang Koeboe di pemukimannya tahun 1915 89
Foto 13 Laki-laki kelompok Orang Koeboe tahun 1915 90
Foto 14 Foto bersama Penulis dengan Kelompok Gera tahun 2003 90
1
ORGANISASI SOSIAL DAN KEBUDAYAAN KELOMPOK
MINORITAS INDONESIA:
Studi Kasus Masyarakat Orang Rimba di Sumatra
(Orang Kubu Nomaden)
BAB I
PENDAHULAN
1. Latar Belakang Permasalahan
Menurut Herakleitos, seorang filsuf yang berasal dari Yunani, ruang dan
waktu adalah bingkai, di dalamnya seluruh realitas kehidupan kita hadapi.
Kita tidak bisa mengerti benda-benda nyata apapun tanpa meletakkannya
pada bingkai ruang waktu (Cassirer, 1987: 63).
Lingkungan kita terbatas dan ruang itu ternyata penuh dengan hal-hal
abstrak dan konkret yang ditemui dan dialami oleh manusia. Disamping hal
tersebut, ada juga unsur dan wujud yang diwarisi serta dipelajari dari nenek
moyang. Peradaban selalu dinamis dan mudah bereaksi terhadap kegiatan
yang ada di lingkungan pada waktu tertentu. Kelompok manusia atau
masyarakat dan individu pribadi menginterpretasikan suatu peristiwa berbeda
dengan kelompok atau individu yang berlatar belakang lain atau yang berpola
pikir berbeda. Maksudnya, kita hidup dalam suatu lingkungan yang
membentuk sikap individu, kebudayaan masyarakat, dan lingkungan alam.
Pada saat seseorang lahir di dunia, dia memiliki kesempatan memilih
ribuan jalan kehidupan. Namun pada akhirnya dia hanya bisa memilih satu
jalan hidup saja. Pengalaman hidup manusia adalah sumber utama dalam
2
filsafat manusia. Menurut Comte, filsuf modern: “Kondisi-kondisi sosial
ternyata memodifikasi bekerjanya hukum-hukum fisiologis, maka fisika
sosial harus menyelenggarakan observasi-observasinya sendiri” (Cassirer,
1987: 100).
Di Indonesia terdapat tigaratus lebih kelompok suku bangsa yang sifat
hidupnya berbeda cukup signifikan dari kelompok lain. Disamping hal itu
mereka mempunyai identitas yang berbeda dan menggunakan lebih dari dua
ratus bahasa khas. Namun demikian menurut postulasi ahli bahasa Robert
Blust, sebagian besar bahasa di Indonesia termasuk rumpun bahasa Melayu-
Polinesia.
Kira-kira duaratus sepuluh juta penduduk Indonesia tersebar di lebih dari
empat belas ribu pulau dan kira-kira 1,5 persen jumlah penduduknya hidup
dengan cara tradisional. Aktivitas memenuhi kebutuhan hidup atau hiburan
jauh berbeda dengan kelompok manusia lain.
Masyarakat Indonesia menganut bermacam-macam agama dan sejumlah
besar kepercayaan tradisional yang dapat ditemui di daerah yang terpencil.
Kepercayaan-kepercayaan tradisional sering diakulturasikan dengan ajaran
agama Islam, Hindu atau Kristen. Juga ada jumlah penganut agama yang
memasukkan unsur-unsur kepercayaan nenek moyang. Misalnya di Jawa
unsur-unsur Hindu dan animisme masuk agama Kristen dan Islam.
Kelihatannya dengan akulturasi tersebut, agama dengan unsur-unsur
kepercayaan tradisional, memyebabkan kemunculan kosmos baru.
3
Sumatera merupakan pulau yang memiliki sejumlah suku-suku besar
yang mempunyai ciri khas tradisional. Suku yang terkenal adalah Aceh,
Batak, Minangkabau dan Melayu. Juga adalah sejumlah suku-suku minoritas
di Sumatera sebelah timur di kawasan hutan luas diantara sungai-sungai
besar, maupun rawa-rawa pantai dan pulau-pulau lepas pantai. Kebanyakan
suku minoritas di propinsi Jambi dan sekitarnya dikenal dengan nama umum
orang Kubu yang benar-benar memiliki tradisi sendiri. Di kawasan pantai
terdapat orang Akit, orang Utan dan orang Kuala atau Duano. Di pulau-pulau
lepas pantai terdapat orang Laut dan orang Darat dari kepulauan Riau dan
Linga. Ada orang Sekak di pesisir kepulauan Bangka dan Belitung dan orang
Lom disebelah utara pulau Bangka.
Di pedalaman terdapat orang Sakai, yang berlokasi diantara sungai
Rokan dan Siak. Orang Petalangan ada diantara sungai Siak dan Kampur dan
diantara sungai Kampar dan Indragiri. Ada orang Talang Mamak diantara
sungai Indragiri dan Batang Hari. Orang Batin Sembilan di daerah antara
sungai Batang Hari dan Musi, tetapi khususnya di sisi perbatasan propinsi
Jambi. Orang Bonai, yang mendiami di kawasan berawa di pertengahan
Daerah Aliran Sungai (DAS) sungai Rokan yang bersebelahan kawasan orang
Sakai.
Dalam makalah ini penulis terutama memfokuskan pada salah satu suku
lain, yang tidak ingin dikenal dengan nama orang Kubu tetapi orang Rimba,
atau Kelam yang nama benar menurut salah seorang Rimba, kelompok Biring
yang masih tinggal di lingkungan tradisional. Walaupun nama suku Kubu
4
sudah digunakan sejak beberapa abad, arti nama berubah dan konotasi nama
itu tidak selalu sesuai keinginan mereka lagi, supaya lebih cocok suku dikenal
dengan nama disebut diatas, Orang Rimba. Kadang-kadang ada keperluan
mereferensikan sebagai orang Kubu atau istilah yang digunakan oleh
pemerintah, Suku Anak Dalam (SAD). Dalam makalah ini beberapa data dari
suku tetangga orang Rimba yakni suku orang Batin Sembilan, dijadikan
sebagai studi pembandingan, alasannya ada beberapa sifat terkait dengan
budaya orang Rimba.
Sampai sekarang, kebudayaan masyarakat tradisional orang Rimba
bertahan dari tekanan hidup yang muncul dari pinggiran tanah tradisional
mereka. Kelihatannya, mau atau tidak mau, masyarakat transmigrasi dan
perantau baru yang mempunyai kebudayaan pasca tradisional masuk dengan
jumlah cukup besar dalam waktu 20 tahun terakhir. Hal ini berdampak pada
pencarian nafkah, kehidupan sosial dan aspek kehidupan lain orang Rimba
secara drastis. Misalnya, penebangan kayu resmi maupun liar dan pembukaan
lahan untuk perkebunan karet dan kelapa sawit, adalah aktivitas yang tidak
umum di kehidupan orang Rimba dan benar dirasakan oleh orang Rimba.
Mereka merupakan suku yang tergolong defensif dan tidak terbiasa
melakukan peperangan atau berjuang untuk mempertahankan hak adatnya
yang tidak selalu diterima oleh institusi resmi pemerintah yang mengatur
hukum.
Pada bulan November 2001, penulis pertama kali bertemu kelompok
tradisional, orang Batin Sembilan, di lokasi pembinaan di Silang Pungguk,
5
yang termasuk desa Muara Singoan dekat Muara Bulian. Saat itu masih ada
bagian kelompok tradisional yang belum dibina dibawah supervisi
Departemen Kesejahteraan dan Sosial (DEPSOS). Penulis sangat tertarik
gaya hidup mereka dan berencana kembali ke propinsi Jambi untuk
melakukan studi di tingkat lebih lanjut.
Pada tahun 2003, selama sekitar dua bulan, penulis melakukan riset
di propinsi Jambi. Pada kesempatan tersebut, penulis bertemu lagi dengan
kelompok orang Batin Sembilan di Sialang Pungguk yang kelihatannya
beradaptasi tahap pasca tradisional dengan bantuan pemerintah. Di lokasi lain
di propinsi Jambi penulis bertemu dengan orang Rimba, yakni kelompok
Temenggung Tarib dan kelompok Bering, yang keduanya berada di Bukit
Duabelas dekat pemukiman transmigran Paku Aji yang tidak terlalu jauh dari
kota Bangko. Walaupun hutannya sudah sempit di Bukit Duabelas ada
beberapa kelompok yang tinggal disana yang ingin ikut pola kehidupan sosial
yang diwarisi dari nenek moyangnya.
Penulis tertarik pada bentuk kehidupan kelompok tersebut. Walaupun
mereka menghadapi banyak kesulitan, mereka tetap bertahan sebab memiliki
cukup kepuasan, perselisihan minimal dan harmonis dengan lingkungan
sekitarnya. Mereka tidak dipaksa hidup di hutan, sejak waktu kolonial ada
kesempatan dan bantuan dari luar untuk pindah ke kampung, tetapi
kelihatannya perpindahan tersebut gagal dan mereka kembali ke hutan lagi.
6
Perbedaan budaya lisan dan budaya pasca lisan (tulisan) tidak perlu
menyebabkan prasangka. Budaya lisan lebih sederhana dibandingkan dengan
budaya pasca lisan yang lebih kompleks dan cenderung konsumtif.
Menurut informasi yang ada sampai sekarang, administrasi pusat maupun
propinsi mengetahui bahwa ada orang Kubu, tetapi mereka belum mendapat
pengakuan hak uliyat atau mendapat sertifikat milik tanah nenek moyang
yang diwariskan.
2. Perumusan Masalah
Penulis merumuskan masalah yang akan menjadi pedoman sekaligus
arah dari penelitiannya. Dari pertanyaan pokok ini penulis merincikan
menjadi beberapa pertanyaan hipotesis yang merupakan penurunan dari
pertanyaan pokok. Pertanyaan tersebut adalah: Apakah sejarah atau asal usul
orang Rimba, apakah struktur sosial masyarakat kelompok orang Rimba.
Apakah lingkungan flora dan fauna cukup untuk memenuhi atau bermanfaat
bagi kebutuhan hidup mereka. Apakah pola pikir orang Rimba dan
filosofinya mengenai hidup atau terhadap pemandangan dunia. Apakah
perubahan dari situasi kehidupan mereka pada zaman dahulu dan prospek
pada masa depan. Apakah keadaan dewasa ini kelompok tradisional Orang
Batin Sembilan setelah dibina oleh pemerintah beberapa tahun yang lalu
mengalami perubahan.
Kelihatannya ada kecenderungan di dunia bahwa masyarakat pasca
tradisional, yang menggunakan bahasa tulis, menginginkan suatu pengelolaan
kelompok suku tradisional yang mempunyai tradisi lisan. Sebuah kelompok
7
yang tidak hidup menurut tata tertib atau tidak berbudaya tulisan, diterima
sebagai sekelompok yang susah, menurut masyarakat pasca tradisional. Sejak
dahulu, orang buta-huruf disamaartikan dengan orang terbelakang, alasannya
struktur masyarakat tradisional sangat sederhana dibandingkan dengan
masyarakat pasca tradisional.
Apabila kita mengamati struktur sosial masyarakat akan menunjuk
kepada suatu jenis suasana dan aturan. Komponen tersebut adalah unit-unit
struktur sosial yang terdiri dari orang atau masyarakat yang memenuhi
kedudukan dalam struktur sosial (Radcliff-Brown 1980: xix). Misalnya, sejak
kecil orang Rimba sadar bahwa struktur masyarakat memenuhi kebutuhan
pangan, papan dan sandang, dan memenuhi kebutuhan abstrak termasuk
kebutuhan psikologis yang mewujudkan kosmologi atau pola pikir mereka.
Kelihatannya bahwa untuk memenuhi kebutuhan materiil masyarakat
pasca tradisional perlu mengakseskan hasil alam, yang terletak di kawasan
suku tradisional. Daerah eksplorasi dibuka supaya bahan alam ditebang atau
ditambang dan diangkut keluar untuk memenuhi kepuasan pasar yang di luar
tanah tradisional. Demikian kelihatan kebutuhan masyarakat pasca tradisional
diprioritaskan, sebenarnya eksploitasi tanah yang sebenarnya “Lebensraum”
kelompok tradisional.
Karena terjadi perubahan sosial kultural dan lintas budaya, dimana
suku tradisional memiliki sifat rendah hati dan tidak melawan, terpecah. Dari
masalah-masalah yang disebutkan di atas, kelompok dibagi menjadi tiga.
Kelompok pertama yang masih tradisional atau dengan perubahan minimal,
8
yaitu kelompok yang mengikuti kebudayaan secara sebaik mungkin yang
diwariskan dari nenek moyang. Kelompok kedua, yang masih tinggal di
pinggir daerah tradisional, yang kurang bisa mengadopsi semua ciri-ciri hidup
pasca tradisional tetapi sudah masuk beberapa ide dari masyarakat pasca
tradisional. Ketiga, kelompok yang tidak mampu mengre-fokuskan atau
mengorientasikan lagi untuk memenuhi kebutuhan primer sendiri dan hanya
bertahan dengan bantuan dari masyarakat luar saja. Misalnya, kelompok
ketiga tersebut yang benar putus asa, bisa diamati di pinggir jalan raya, minta
uang. Dengan menggunakan tali berseberangan jalan mereka membatasi jalan
(seperti jalan tol) dan meminta uang. Pada umumnya stereotipe budaya orang
Kubu berasal dari pengamatan tindakan orang Kubu yang berada di pinggir
jalan seperti contoh diatas. Padahal hidup di pinggir jalan bukan lingkungan
asli mereka.
3. Maksud, Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Alasan menulis makalah mengenai orang Rimba untuk mengetahui
sejarah orang Kubu serta orang Rimba, termasuk prasejarah kawasan mereka
dari permulaan pertama. Untuk memahami budaya, ketindakan dan filosofi
masyarakat orang Rimba tradisional yang tinggal di bagian selatan, Cagar
Biosfer, Taman Nasional Bukit Duabelas. Sebagai studi pembandingan,
beberapa hari dihabiskan di tengah kelompok orang Batin Sembilan, untuk
mengukurkan kepuasannya setelah mereka ikut program pembinaan yang
dikelola oleh Departemen Sosial dan Kesejahteraan.
9
Penulis ingin mengetahui mengenai konsep atau pola pikir dan
kosmos orang Rimba dan keinginan mereka pada masa depan. Keterangan
yang dapat dari studi ini supaya memahami masyarakat secara mendalam dan
holistik, mengenai prinsip kehidupan dan pengendalian sosial, agar
keseimbangan dengan menggunakan beberapa aspek teori antropologi
struktur fungsional.
Dengan keterangan dari teori dan pengalaman studi lapangan
menggambarkan peradabannya dan keterangan itu menjadi senjata untuk
mengatasi kesalahpahaman antar kelompok budaya tradisional dan budaya
pasca tradisional. Selanjutnya, supaya kebutuhan hidup orang Indonesia
dimana-mana, dilihat dari sudut multi-kultur. Serta mengatasi masalah
mengamati kebudayaan individu dari sudut etnosentris saja pada masa depan.
Maknanya, penggunaan tanah tradisional, fakta sosial seperti moralitas,
kepercayaan, pola pikir, pendapat umum orang tradisional sama dihormati
oleh masyarakat pasca tradisional, yang sebetulnya juga ingin dihormati.
Sampai sekarang menurut pengamatan emperis, masyarakat
tradisional yang diserap kebudayaan pasca tradisional sering menjadi bagian
masyarakat lapisan terbawa. Kombinasi, unsur sakit-hati kelompok
masyarakat yang disteriotipe sebagai kelompok inferior, dan unsur kelompok
yang merasa mandul secara politikal, adalah unsur-unsur yang bahaya pada
waktu depan.
Di Indonesia keanekaragaman penduduk, kadang-kadang menjadi
alasan kesalahpahaman yang menyebabkan friksi antar-kelompok yang cepat
10
meletus seperti gunung berapi. Gangguan itu, dan perubahan lain yang asal
dari dalam negeri maupun luar, mengancam stabilitas struktur dan bisa
menghancurkan keseimbangan ekonomi serta keadaan sosial masyarakat
lokal. Friksi antara kelompok seperti yang tersebut dikenal di Indonesia
dengan istilah SARA, atau dengan kata lain, friksi yang berkait dengan hal:
suku, agama, ras atau etnik atau status ekonomi. Masalah itu, salah satu
alasan untuk melakukan riset mengenai masalah sosiologi maupun
antropologi, supaya masalah tersebut bisa diatasi sebelum muncul dan
meledak.
4. Tinjauan Pustaka
Kelihatannya cara kehidupan lapisan masyarakat tradisional tidak
sesuai dengan pola pikir rasional pemerintah pasca tradisional. Pemerintah
membentuk distrik-distrik tertentu yang dikepalai oleh Pegawai Negeri Sipil
(PNS) yang menerapkan kebijaksanaan dari pusat maupun lokal serta
mengumpulkan data mengenai persoalan sosial dan ekonomi ala pasca
tradisional. Pengaruhnya mengganggu serta merubah bentuk-bentuk
masyarakat yang pra-modern (Geerz H, 1981 6)
Menurut interpretasi budaya Jawa oleh seorang sosiolog, adalah
keinginan oleh budaya untuk menghaluskan lingkungannya sebaik mungkin,
artinya menyempurnakan budaya dan alam. Kelihatannya, manusia sebaiknya
membebaskan dan menjauhkan diri dari alam, supaya alam dirobohkan dan
tanah dihaluskan. Maksudnya, hutan liar, dilihat sebagai dunia kasar yang
11
boleh dilihat sebagai hal yang menakutkan atau yang tidak sesuai budaya
halus. Mungkin tempat liar tertentu memang tempat angker, tempat misteri
dengan roh-roh yang berbahaya. Sebenarnya tempat tersebut dilihat sebagai
tempat yang cocok bagi orang yang akan bertapa, atau mengasingkan diri
(Magnis-Suseno, 1997: 127). Dari sisi lain, petani mengamati tanah yang
belum dibuka sebagai tempat yang belum produktif yang perlu digarap
supaya berhasil. Menyadari latar belakang itu, penting untuk menjelaskan
pola pikir dari sudut budaya Jawa atau budaya modern terhadap orang dan
lingkungan yang belum dihaluskan seperti orang Rimba.
Smelser menyatakan bahwa pada umumnya kemajuan ekonomi
disamakan dengan "growth of output per head of population". Modernisasi
adalah jalur untuk meningkatkan hasil atau produksi. Mengganti teknik yang
sederhana dan lama dengan aplikasi ilmu pengetahuan terapan (scientific
knowledge). Di sektor ekonomi, bidang pertanian, khususnya pada pertanian
swadaya (subsistence farming), produksinya meningkat dengan aplikasi
model produksi komersial. Di bidang industri, dari kerajinan tangan dan
penggunaan tenaga hewan ditingkatkan dengan aplikasi mesin menggunakan
tenaga listrik dan Bahan Bakar Minyak (BBM). Dan perubahan terakhir,
transmigrasi atau gerak manusia dari daerah terpencil ke kota (Smelser in
Etioni-Halevy dan Etzioni (eds),-: 269
Evolusi sosial adalah bagian dari semua perubahan. Pada awalnya
sistem organisasi sosial peradaban sederhana dan tidak teratur. Namun
kemudian terjadi perubahan organisasi sosial terus menerus. Perubahan yang
12
terjadi menjadi suatu kebiasaan yang kemudian menjadi lebih tetap dan pada
akhirnya kebiasaan itu menjadi hukum. Rupa-rupanya kemajuan berkait
dengan, persamaan dan ketentuan (Spenser in Etioni-Halevy & Etzioni (eds),
– : 13). Penggunaan teknik dan organisasi canggih yang digambarkan diatas
menyebabkan perubahan struktural sosial masyarakat, perubahan peranan
keluarga, kepercayaan dan stratifikasi masyarakat dalam peradaban pasca
tradisional. Pada umumnya dalam peradaban tradisional produksi kebutuhan
adalah urusan unit-unit kekerabatan (production is located in kinship units).
Pola pertukaran dan konsumsi makanan di daerah terpencil terkait dengan
unit kekerabatan. Sistem pertukaran serta tukar-balik (reciprocal exchange),
didasarkan tradisi dan kebiasaan yang terkait dengan status individu, tradisi
menghadiahkan atau tradisi gotong royong dan seterusnya. Peradaban itu
tidak memerlukan sistem pasar atau penggunaan uang untuk mendorong atau
melanjutkan produksi barang atau jasa. Menjaga suplai makanan pokok,
melestarikan keturunan, menyebarkan ilmu, hiburan dan seterusnya, menjadi
bagian kegiatan kekerabatan tradisional. Sebenarnya, tugas yang terkait
dengan kekerabatan tradisional dipersempit di masyarakat pasca tradisional.
Kekuasaan keluarga inti (nuclear family) serta kekerabatan luas (extended
kinship system) masyarakat pasca tradisional terhadap individu tidak sama
kuat dengan kekuasaan masyarakat tradisional. Berbagai urusan seperti
mencari pekerjaan, kedamaian, mencari jodoh, membesarkan anak dan hal
lain menjadi aktivitas pribadi atau diurus oleh seorang yang melakukan jasa
tertentu dan pada umumnya jasa itu dibayar. (Smelser in Etzioni (eds.): 273).
13
Selain itu ada perubahan dari sistem nilai tradisional versus sistim
nilai pasca tradisional. Membantu orang dari kelompok atau dari kekerabatan
yang sama atau membantu "saudara sedarah" mencari nafkah sudah menjadi
suatu kebiasaan. Hal itu sebagai suatu kewajiban dan bentuk saling
menghormati dalam kekerabatan. Kelakuan "membantu" bisa digambarkan
sebagai kelakuan yang termasuk nepotisme dalam masyarakat pasca
tradisional. Dilema yang disebut di atas, dialami oleh kebanyakan suku suku
yang bergerak dari lingkungan tradisional ke lingkungan pasca tradisional.
Disamping perubahan budaya ada perubahan fisik (menua) dan
psikologis (pengetahuan dan pengalaman) selama hidup. Sebenarnya,
kebudayaan membantu individu mengatasi ketakutan atau ketidaksenangan
dan merayakan perubahan fisik pada saat tertentu. Contohnya upacara
perempuan yang melahirkan bayi, sebetulnya mempersiapkan kehidupan
keluarga. Upacara sunatan sebetulnya adalah upacara untuk menjadi dewasa
dan mempersiapkan aktivitas seksual. Puncak hidup, memilih jodoh atau
pasangan hidup, dirayakan dengan pernikahan dan membangun rumah tangga
sendiri. Tahap terakhir kehidupan adalah upacara pemakaman yang
sebetulnya merayakan kesementaraan hidup manusia di dunia. Pada
kelompok tertentu ada ritual yang berdasarkan waktu, misalnya upacara
panen, atau buah-buahan dan bunga-bunga atau upacara musiman dan ritual
lain. Upacara tersebut juga bisa dilihat sebagai kesempatan pertukaran sosial
(social exchange) dan kesempatan untuk menciptakan timbal-balik, supaya
keseimbangan baru muncul (Gennep van, 1960: 117). Hukum universal
14
berkata: manusia yang menolong orang lain juga akan ditolong dan jangan
merugikan orang yang menyelamatkan anda (Ekeh, 1974: 206) Pada
dasarnya manusia punya impulsi untuk menunjuk, membagi dan memberikan
sesuatu supaya memunculkan hubungan sosial melalui timbal-balik itu.
5. Landasan Teori
Budaya sesuatu yang dinamis. Perubahan sosial muncul dari
perubahan luar atau di dalam. Apabila terjadi perubahan pada struktur
masyarakat maka otomatis fungsi-fungsi atau tugas individu dalam
masyarakat ikut berubah. Koentjaraningrat menggambarkan kosmos individu
yang terkait perilaku individu di peradaban tertentu.
Aktivitas individu
Gagasan individu Gagasan kolektif Kebudayaan
Kebudayaan Gagasan Kolektif dan Gagasan Individu
(Gambar Koentjaraningat)
15
Beberapa hipotesis disampaikan oleh ilmuwan humaniora, dan kita
bisa mengamati “Metodenstreit” yang saling membuktikan kebenaran yang
diusulkan pihak lain, termasuk di dalam ilmu antropologi. Menurut pendapat
pakar sosial, bidang kajian dan interpretasi lapangan antropologi tidak selalu
tetap, tetapi selalu didasarkan teori. Hipotesis-hipotesis itu seperti, teori kultur
dan teori kepribadian (psychoanalytic/neo-behaviorist), difusioniskesejarahan,
teori Kulturkreis, neo-evolusi, teori evolusi, strukturfungsialisme
dan strukturalisme dan lainnya (Pelto 1970 :19).
Pada umumnya bisa dikatakan bahwa ilmu antropologi didasarkan atas
penelitian komparatif, artinya membanding-bandingkan ciri-ciri kebudayaan.
Max Weber menjelaskan dalam bukunya berjudul Verstehen, bahwa salah satu
konsep yang terpenting ilmu sosiologi adalah “artinya” atau interpretasi arti.
Kepentingan konsep itu, juga terdapat pada fenomena tradisi di teori
strukturalisme dari Lévi-Strauss. Konsep pokok phenomenology adalah untuk
“to look at how the individual tries to interpret the world and to make sense of
it” (Alasuutari 1996: 35). Para ahli antropologi menemukan dan mengeluarkan
hipotesis yang pada umumnya diterima dengan baik dan dapat dukungan di
bidang antropologi yang beberapa diantaranya dijelaskan di bawah ini.
Keinginan mempelajari konstruksi sosial kebudayaan mengenai latar
belakang aturan normatif juga hal yang diteliti oleh Claude Lévi-Strauss
(1908- ). Menurut Lévi-Strauss yang diilhami oleh sosiolog Emile Durkheim,
teori ilmu bahasa (linguistik) yang disajikan Saussure dan pandanganpandangan
dari Karl Marx dan Sigmund Freud mengenai psiko-analisis.
16
Melalui analisis struktur dalam (deep structure) seperti yang diterapkan
bahasa tertentu, Lévis-Strauss menemui gejala-gejala yang pada tataran
nirsadar (ketidak-sadaran). Struktur permukaan (surface structure) hanya
menganalisis gejala-gejala sebagai sebuah mitos, sebuah tradisi pakaian,
sebuah upacara, tatacara memasak, sistem kekeluargaan dan sebagainya
(Ahimsa-Putra 2001:68)
Untuk melakukan analisis yang dikeluarkan Lévis-Strauss harus mulai
mengembangkan semacam analisis kuantitatif (Lévis Strauss dikutip oleh
Koentjaraningrat 1990: 149). Istilah strukturalisme Lévi-Strauss sebetulnya
sengaja didasarkan analogi dengan linguistik struktural. Itu tidak didasarkan
strukturalisme Radcliff-Brown.
Sampai sekarang, analisis struktural Lévis-Strauss hanya diterapkan
untuk menganalisis sistem kekerabatan, sistem klasifikasi primitif atau ”the
science of the concrete” totemisme, dan mitos oleh Lévis-Strauss sendiri,
walaupun ahli-ahli antropologi lain yang memodifikasi analisis strukturalnya
Lévi-Strauss untuk menganalisis gejala sosial-budaya lain di Indonesia lewat
kaca mata struktural (Ahimsa-Putra 2001:392). Totemisme menurut Lévi-
Strauss adalah menggunakan konsep-konsep yang berada di lingkungan alam
sekitar manusia. Totemisme adalah bentuk klasifikasi atas dunia alam dan
dunia sosial yang dipakai oleh orang pra maupun pasca tradisional. Untuk
menggambarkan pandangan dan pengetahuan mereka mengenai dunia sosial.
Bronislaw Malinowski (1884-1942) dan Arthur Reginals Radcliffe-
Brown (1881-1955) dengan kelompoknya yang dipengaruhi oleh Emile
17
Durkheim seorang sosiolog Perancis yang mengeluarkan teori “organisme”
yang didasarkan gagasan bahwa suatu masyarakat adalah seperti sebuah badan
yang hidup. Konsep proses, struktur dan fungsi adalah bagian atau komponen
sebuah teori mengenai interpretasi sistem sosial manusia.
Studi lapangan Malinowski, sewaktu dia tinggal diantara penduduk
asli pulau Trobian selama perang dunia pertama, pada tahun 1914-1918. Studi
lapangan tersebut menjadi buku klasik antropologi. Dia mengasingkan diri
dari peradaban Barat yang berada di sebelah pulau Trobian dan mengamati
cara hidup penduduk asli pulau Trobian dari dekat. Aktivitasnya terdiri dari
menjelaskan bahwa semua hal suatu peradaban saling terkait atau berfungsi
dengan hal lain di masyarakat. Istilah institutions muncul untuk menjelaskan
keterkaitan antara budaya dan masyarakat. Studi lapangan dan pengamatan
suku tertentu adalah hal yang sangat penting untuk mendapatkan inti dari
keterkaitan antara budaya dan masyarakat. Fungsi individu dan institusi
sebuah masyarakat dilihat sebagai pusat budaya yang terpenting.
Dibandingkan Radcliffe-Brown artinya organic berbeda dari arti
organic Malinowski, maknanya masyarakat dilihat sebagai analogi perbuatan
dan kesadaran sosial itu sendiri, atau organisme dari teori diatas. Struktur
sebuah masyarakat dilihat sebagai inti atau pusat yang diteliti. Stuktural teori
digunakan untuk membandingkan sebuah masyarakat. Unit struktur sosial
terdiri dari individu-individu, manusia dianggap bukan sebagai satu organisme
tetapi untuk memenuhi kedudukan dalam struktur sosial (Radcliffe-Brown
1980: xix). Istilah fungsi digunakan untuk merujuk kepada hubungan di antara
18
proses dengan struktur. Institusi yang ada misalnya seperti yang berwenang
dalam agama, upacara pernikahan dan kekerabatan. Organisasi suku juga
berdasarkan prinsip perpaduan dan kesatuan kelompok. Untuk meneliti
kegiatan dan fungsi kelompok sebaik mungkin dari sistim sosial termasuk
institusi kekerabatan, penting menemukan hubungan antar mereka. Kegiatan
individu melakukan fungsinya seperti bagian-bagian tubuh, yang mewujudkan
peradaban.
Sampai sekarang, peradaban suku pedalaman tetap mempertahankan
gaya hidupnya, walaupun tekanan dari luar sangat kuat untuk merubah. Untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat peradaban modern, bahan baku harus dicari
dan hasil bumi juga ditemukan di tanah suku tradisional. Ladang minyak,
kayu, batu-bara, emas, perunggu dan bahan mineral lain, dan tanah untuk
mengembangkan perkebunan sawit, karet, kopi dan lainnya harus dibuka.
Pada hakekatnya Taman Nasional atau daerah lain, dilihat dari sudut pandang
kelompok utama saja dan semua pandangan diorientasikan penilaiannya pada
kebudayaan mereka. (The view of things in which one's own group is the
centre of everything, and all others are scaled and rated with reference to it).
Atau menurut terjemahan penulis: “Sudut pandang kelompok sendiri menjadi
pusat dalam melihat segala sesuatu, dan segala hal diukur dan dinilai dengan
sudut pandang itu.” Maknanya, kebutuhan suku pedalaman mungkin menjadi
sekunder. Fenomena tersebut dikenal dengan istilah etnosentrik yang
digunakan oleh Sumner pada tahun 1906.
19
Pada umumnya saat seorang suku minoritas memasuki masyarakat
pasca tradisional, mereka menjadi bagian lapisan terbawah di masyarakat.
Margaret Mead mengamati bahwa manusia terus-menerus dibentuk (People
are continuously moldable) termasuk oleh masyarakat sekitarnya (Schoor
2003: 14).
Banyak keahlian dan ketrampilan yang diwariskan oleh nenek moyang
manusia tradisional akan hilang pada saat mereka memasuki kebudayaan
pasca tradisional. Sama dengan kehilangan spesies flora dan fauna,
keanekaragaman budaya juga terancam oleh kegiatan dan norma masyarakat
pasca tradisional, yang sebetulnya gaya hidupnya jauh lebih sempurna.
Menurut Malinowski proses observasi masyarakat sangat penting
untuk memahami bagaimana kebudayaan masyarakat tradisional bisa
memenuhi kebutuhan mereka (Kuper, 1983: 17; Pelto, 1970: 91).
Emeritus Professor Antropologi di London School of Economics Jean
La Fontaine mengatakan bahwa “Social anthropology is what is known
as participant observation, which essentially means direct observation,
living with the community being studied and learning to speak its
language” (La Fontaine, 1985: 16).
Atau diterjemahkan penulis sebagai berikut: "Antropologi Sosial
dikenal sebagai observasi partisipan, yang pada intinya adalah
pengamatan langsung serta hidup dengan kelompok yang diobservasi
dan belajar bahasanya".
6. Metode Penelitian
A. Persiapan Studi Lapangan
Saat penulis sampai kota Jambi, kurang jelas kualitas bahan referensi
cukup untuk melakukan semua kegiatan yang direncanakan untuk memenuhi
tugas. Semakin lama semakin banyak sumber karangan dan para ahli
20
kebudayaan yang tertarik kehidupan orang Rimba muncul. Literatur dan opini
yang diterima terhadap keadaan orang Rimba dari opini progresif dan radikal
sampai konservatif. Dari salah satu pihak beropini bahwa integrasi dengan
masyarakat pasca tradisional adalah solusi terbaik, alasannya untuk
melanjutkan posisi ekonomis mereka dan untuk mengatasi kesulitan yang
dialami di tempat tinggal yang semakin lama semakin sempit. Juga ada
informasi lain dari pihak yang terlibat kesejahteraan orang Rimba yang
menginginkan kelestarian dan menghormati kebudayaan orang Rimba supaya,
mereka memenuhi kebutuhannya secara psikologi dan fisik sebaik mungkin
dengan sedikit mungkin gangguan dari luar sistem pemerintah tradisional.
Maknanya, dampak positif maupun negatif dikelola sebaik mungkin oleh
mereka sendiri.
Setelah evaluasi bahan referensi dirumuskan bahwa pada makalah ini
lebih tetap melakukan analisis kualitatif di tempat mereka dengan bantuan
bahan referensi kualitatif dari sumber sekunder yang didapatkan dari institusi
tertentu. Kemudian, merumuskan aspek perilaku sosial yang menjelaskan
semua fenomena yang relevan pada peradaban mereka. Maknanya sebuah
tipologi sebagai konstruksi secara deduktif dari seluruh observasi dan bahan
referensi yang diterima atau ditemukan dari studi lapangan. Menurut
Aliasuutari seorang ahli penelitian teori kebudayaan lebih tetap waktu
pengamat melakukan observasi singkat atau terbatas, melakukan analisis
secara kualitatif. Ahli lain, Weber, juga berpendapat bahwa tipologi yang
21
benar mengenai tindak sosial boleh diwujudkan melalui deduksi logika pada
akar permasalahan yang ditemui.
Seorang ahli orang Rimba yang fasih berbahasa mereka beberapa kali
melakukan penelitian, menyatakan bahwa pengamat-pengamat yang pertama,
seperti van Dongen dan van Hagen, sebenarnya tidak benar-benar mengamati
bahwa sedikitnya ada dua atau lebih kelompok, yang walaupun gaya hidupnya
mirip orang Rimba lain, sebenarnya berbeda. (Sandbukt 1988: 118).
Kelihatannya, bahwa kelompok inti sosial, khususnya yang tradisional,
didasarkan atas keturunan yang sama. Tiap keluarga inti atau kekerabatan
punya hak mengenai sumber-sumber nyata dan non-fisik seperti aksi politik.
Apa yang diteliti adalah gejala seperti upacara kelahiran, pernikahan,
meninggal dunia dan kelakuan social individu, struktur masyarakat dan lain
lain. Misalnya pada umumnya pernikahan atas dasar saling mencintai dan juga
pembagian tugas kerja dan kewajiban untuk mencari nafkah untuk mencegah
kelaparan.
B. Lokasi Studi Lapangan
Penulis masuk propinsi Jambi tanggal 22 Juni 2003 dan tinggal
di Kota Jambi selama tiga minggu untuk mengumpulkan bahan referensi.
Pada tanggal 13 Juli 2003 berpindah ke lokasi dekat orang Rimba di pinggir
Taman Nasional Bukit Duabelas. Selama 24 hari ada kesempatan untuk
bertemu dengan pihak yang mempunyai hubungan akrab dengan orang
Rimba dan memwawancarai Temenggung kelompok orang Rimba Bapak
22
Tarib dan pemimpin kelompok Bering Bapak Gera, yang kelompokkelompoknya
tinggal di dalam Taman Nasional Bukit Duabelas. Beberapa
hari penulis menginap ditenda dalam Taman Nasional, supaya lebih akrab
dengan kelompok.
Penulis punya keinginan untuk melakukan observasi kedua kelompok
tetapi waktu riset untuk menulis makalah ini terbatas. Itu alasan hanya
beberapa hari bisa bertemu dengan kelompok Batin Sembilan dekat Muara
Bulian dan kebanyakan studi lapangan dilakukan di lokasi Bukit Duabelas.
Titik kedua melakukan studi lapangan di tempat Orang Batin
Sembilan dekat Muara Bulian yang terletak sekitar 60 km dari kota Jambi
propinsi Jambi, Sumatra. Dari Muara Bulian naik kendaraan ke desa Muara
Singeon seberang sungai Batang Hari dengan sampan. Di daratan jalan kaki
melalui jalur Hak Penebangan Hutan (HPH) yang berjarak 7 kilometer ke
Silang Pungguk. Di lokasi itu terdapat sekitar 50 rumah termasuk Mushola
dibangun oleh DEPSOS.
Lokasi penelitian studi lapangan primer adalah di tempat tradisional
orang Rimba, yang jumlah populasi diperkirakan sekitar 1000-1200 jiwa atau
300 KK yang menyebar di seluruh wilayah orang Rimba, termasuk Taman
Nasional Bukit Duabelas, yang terletak kurang lebih di 2º Lintang Selatan
dan 104º Bujur Timur dari Greenwich. Tidak terlalu jauh dari pemukiman
dusun Singosari dan dusun Paku Aji, Sub Daerah Aliran Sungai (DAS), desa
Pematang Kabau, Kecamatan Pauh, Kabupaten Sarolangun, Propinsi Jambi,
Sumatera. Taman Nasional Bukit Duabelas baru diresmikan pada bulan
23
Agustus tahun 2000 oleh Presiden Republik Indonesia yang pada waktu itu
dijabat oleh Abdurrachman Wahid. Secara administratif Bukit Duabelas yang
dengan luas kira-kira 60.500 Ha, terletak pada empat wilayah Kabupaten
yaitu, Batanghari, Sarolangun, Merangin dan Tebo.
Bangko, ibu kota Sarolangun, kira-kira berjarak 50 km dengan jalan
aspal dari Pematang Kabau. Ada beberapa tempat orang Rimba yang tidak
jauh dari pemukiman transmigrasi Paku Aji. Pertama, kelompok
Temenggungng Tarib terletak sekitar 8 km arah barat-daya dari Paku Aji
dekat jalan Kutai kira-kira 4 kilometer melalui jalan aspal dan jalan tanah
serta 4 km jalan setapak melalui perkebunan sawit, perkebunan karet dan
hutan. Sebenarnya, sejumlah kecil mantan anggota kelompok tersebut sudah
pindah beberapa tahun lalu setelah mendapat bantuan dari pemerintah ke
lokasi Air Hitam. Pada waktu itu mereka di pimpin alm. Temenggung
Basring.
Di Taman Nasional Bukit Duabelas ada 3 daerah besar, yaitu
kelompok Makakal di bagian barat, kelompok Kejasung bagian Timur dan
kelompok selatan dari pegunungan bukit Duabelas, kelompok Air Hitam.
Di utara, di luar Taman Nasional bukit Duabelas adalah sungai Batang Hari.
Di barat dari Taman Nasional, terdapat orang Kubu, yang sebenarnya orang
Rimba kelompok Tele, di selatan Taman Nasional terdapat kelompok orang
Kubu Pamenang daerah dekat kota Bangko, dan kelompok orang Kubu
Singkut sekitar Sorolangun. Di timur dari Taman Nasional, dekat Tembesi,
terdapat orang Kubu, yang sebenarnya orang Batin Sembilan.
24
Bagian dari kelompok Miring atau Biring yang masih hidup secara
tradisional yang dipimpin Gera, tinggal di hutan kira-kira 10 km arah utara
dari Paku Aji sebelah dusun Singosari. Melalui jalan tanah yang jaraknya
kira-kira 5 kilometer, sampai bagian kelompok Miring yang di pimpin oleh
Pak Helmi. Pak Helmi, sebetulnya mantan Temenggung Miring yang waktu
dia penganut Islam, mendapat bantuan sesuai dengan program pembinaan
departemen Kesejahteraan dan Sosial. Dari tempat Pak Helmi, ada jalan
setapak melalui perkebunan sawit dan karet, sampai sungai kecil Kru, sumber
air bersih utama bagi kelompoknya. Satu kilometer jalan setapak lagi, melalui
tempat alang-alang, bekas daerah penebangan liar sampai pemukiman
tradisional yang dipimpin Pak Gera.
Pada kawasan Cagar Biosfer Bukit Duabelas, samping kehidupan
masyarakat tradisional, Taman Nasional diciptakan untuk mengelola dan
melestarikan satu-satunya hutan tropis dataran rendah Sumatera.
Menurut informan di dusun Paku Aji, desa Pematang Kabau, daerah
sekitar Paku Aji termasuk bagian Taman Nasional, diperkirakan bahwa
persentase penduduknya terdiri dari; 10 persen orang Rimba, 80 persen orang
transmigran, 5 persen orang Jambi dan 5 persen perantau yang masuk sendiri
tanpa bantuan dinas transmigrasi.
Lokasi penelitian sekunder terletak di pemukiman orang Kubu, yang
sebenarnya orang Batin Sembilan di desa Muara Singoan. Mereka tinggal di
Silang Punguk yang 7 km jauh dari desa Muara Singoan seberang sungai
25
Batang Hari. Dari desa Muara Singoan ada jalan aspal ke ksana ke ibu kota
Kabupaten Muara Bulian, yang terletak 10 km dari Muara Singoan.
Iklim
Propinsi Jambi terletak sekitar khatulistiwa dengan iklim tropis, suhu
maksimum di daerah dataran adalah sekitar 32ºC dan di daerah Bukit Barisan
suhu maksimum sekitar 28ºC. Pada bulan September sampai dengan bulan
Maret bertutup angin dari barat ke timur, bulan itu termasuk musim hujan.
Selanjutnya pada bulan April sampai Agustus, bertiup angin dari timur ke
barat dan waktu itu terjadi musim kemarau. Bulan Juli adalah bulan dengan
curah hujan yang terrendah. Suhu yang paling rendah pada bulan September
dan yang paling tinggi pada bulan Mei. Curah hujan di daerah dataran rendah
sekitar 2000-3000 mm dan di daerah sekitar Bukit Barisan sekitar 3000-4000
mm per tahun.
Geologi
Pada umumnya di kabupaten Batanghari terdiri dari satuan tanah
alluvia, batuan endapan dan batuan beku. Pada umumnya tanah di kabupaten
Tebo, Merangin dan Sarolangun terdiri dari satuan-satuan tanah padsolik
merah kuning, latosol dan litosol yang terdiri dari bahan induk batuan
endapan, batuan beku, dan metamorf.
Topografi
Daerah bukit Duabelas terdiri dari beberapa bukit, bernama bukit
Subanpunai Banyak dengan ketinggian 160 meter, pegunungan Panggang
dengan ketinggian 328 meter, bukit Kuaran dengan ketinggian 436 meter.
26
Keadaan propinsi luas tanah, cadangan hutan luas iklim dan curah yang
hampir merata sepanjang tahun serta aliran Sungai Batanghari yang salah
satu sungai terbesar di Indonesia yang membujur dari barat ke arah timur
dengan berpuluh-puluh anak sungai, menjadi faktor yang strategis bagi lalu
lintas perdagangan (Sagimum 1985: 23).
Flora dan Fauna
Daerah yang terletak antara 23 1/2º LU- 23 1/2º LS dikenal sebagai
daerah iklim tropis, termasuk propinsi Jambi. Walaupun iklim tropis, dengan
cukup matahari dan hujan, elemen penting untuk tumbuh flora dan fauna.
Akan tetapi kelihatannya tanahnya tidak selalu subur, kompos dari daun-daun
pohon, dan hujan yang rata-rata cukup untuk pertumbuhan pohon yang
dahulu menurut pengamatan terdiri dari pohon-pohon tinggi sampai 80-100
meter. Keanekaragaman flora tropis terkenal sebagai yang terbesar di dunia,
dari lokasi daerah puncak bukit yang kering sampai rawa yang basah. Dari
akar sampai daun pohon tinggi, muncul banyak manfaatnya bagi manusia dan
binatang. Sebelum status Taman Nasional diumumkan, degradasi sangat
signifikan dengan kepunahan keanekaragaman hayati. Keanekeragaman
hayati fauna termasuk serangga-serangga, burung-burung, ular-ular, kurakura,
babi hutan, rusa, kijang, macan, sampai binatang menyusui terbesar,
gajah. Sayangnya spesies yang terakhir punah pada tahun 1985 di daerah
bukit Duabelas.
Kekayaan keanekaragaman hayati memenuhi kebutuhan primer orang
Kubu dari sudut minuman, makanan, obat, pakaian, bahan bangunan, alat
27
dapur, dan kebutuhan untuk berburu diperlukan teman sebagai pembantu
yaitu seekor anjing. Sebenarnya, kekayaan hutan tidak hanya untuk memenui
kebutuhan sendiri tetapi juga sebagai bahan tukar dengan dunia luar.
Perniagaan hasil hutan atau pertukaran barang sudah dilakukan sejak lama
oleh orang Rimba.
C. Informan
Di lokasi bukit Duabelas selain dari orang Rimba penulis juga
mewawancarai, orang dusun dan perantauan, untuk dapat sudut pendapat
yang berbeda. Beberapa informan tinggal di lokasi dekat pemukiman
transmigrasi dusun Paku Aji. Yang utama adalah Temenggungng Tarib,
pemimpin kelompok orang Rimba, Pak Alisman yang dulu bertugas sebagai
Jenang, Pak Joko Sumarno yang terkait program Keluarga Berencana (KB).
Kedua, Pak Gera dan Pak Majid, orang Rimba dari kelompok Miring
yang waktu penulis melakukan studi lapangan tinggal di bukit Duabelas,
hutan dekat sungai Kru.
Di lokasi Silang Pungguk, mantan kepala sekolah Pak Al-hamidi
adalah sumber pertama yang menjelaskan keadaan di lokasinya. Juga dapat
banyak bantuan dari kepala desa Pak Asmawi. Pak Al-hamidi menjadi alih
bahasa sewaktu penulis mencari informasi.
28
D. Teknik Pengumpulan Data
Beberapa metode yang digunakan, antara lain: observasi partisipasi,
wawancara, life – history, penelitian arsip dan studi pustaka. Observasi
partisipasi yaitu mengamati kebiasaan-kebiasaan kelompok dan mencatat
kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh mereka dan juga melihat aktivitasaktivitas
lain. Mencatat alokasi waktu yang dihabiskan oleh anggota suku
yang berhubungan dengan kegiatan sosial, istirahat dan pekerjaan.
Wawancara dilakukan dengan orang suku yang masih tinggal di tengah
hutan, di pinggir hutan dekat perkebunan sawit dan anggota yang sudah
pindah jauh dari tanah tradisional. Setelah itu beberapa tokoh masyarakat
diwawacara secara mendalam mengenai alasan pemilihan tempat hidupnya.
Tujuan dari wawancara itu adalah untuk mengetahui secara lebih detail
perubahan kehidupan kebudayaan orang keturunan suku pedalaman.
Penelitian arsip termasuk mencari data statistik mengenai jumlah
penduduk, fakta-fakta ekonomi termasuk jumlah rupiah yang dikeluarkan
sebagai bantuan kepada suku tertentu, ukuran tanah tradisional, hasil dari
tanah tradisional dan lain-lain. Data statistik yang didapat dari Pusat Biro
Statistik serta Departemen Kesejahteraan dan Sosial di Jambi dan
Perpustakaan Daerah diverivikasi sebaik mungkin. Walaupun mencoba
mendapatkan setidaknya mengkonsultasikan beberapa sumber, kadangkadang
berdasarkan sumber yang terbatas.
29
BAB II
SEJARAH
1. Prasejarah
Di daerah propinsi Jambi, ahli ilmu arkeologi menemukan beberapa
tempat benda-benda flakes yang membuktikan bahwa sekitar 4000 Sebelum
Masehi (SM) pada zaman Mesolithicum didiami manusia. Kemudian,
menurut hipotesis menjelang akhir zaman Neolithicum perantau baru datang
dari dataran Asia yang membawa kebudayaan batu besar atau era
Megalithicum. Buktinya terdapat dalam benda Kisten Stenen diteliti oleh Bot
sekitar daerah Bangko. Dari zaman Perunggu ditemui benda-benda seperti
sebuah bejana dan sebuah guci, yang berisi perhiasan kalung.
Menurut Kern dan Sarasin yang melakukan penelitian mengenai
bahasa-bahasa di Asia Tenggara, yang hipotesisnya juga diperkuat oleh
banyak ahli lain, mengumumkan bahwa orang Melayu datang dari benua
Asia setidak-tidaknya dalam dua gelombang besar, yang berasal dari
propinsi Yunan, kawasan Tiongkok Selatan. Para perantau memasuki
Indonesia kira-kira pada tahun 4000 dan kira-kira 2500 SM (Idris, 2001: 27).
Manusia gelombang pertama yang mendarat di kepulauan Indonesia,
dikenal sebagai Melayu Tua atau Proto Melayu, yang memiliki peradaban
sangat sederhana.
Gelombang kedua yang mungkin berasal dari daerah Dongson,
sebelah utara Vietnam membawa teknologi dan ketrampilan yang lebih
30
canggih dibandingkan gelombang pertama. Karena tingginya ilmu kelompok
gelombang kedua, dengan cepat Melayu Tua ditelan oleh kebudayaan
perantau baru dan melahirkan ras Duetron-Melayu.
Ada juga hipotesis lain dari beberapa ahli sejarah yang menyatakan
bahwa mereka tidak menemukan bukti kuat adanya persamaan ciri budaya
dan linguistik di Yunan dengan kelompok rumpun etnik Melayu di Champa,
Vietnam. Akan tetapi, terdapat persamaan aspek budaya dan linguistik
Melayu dengan pribumi Melayu di Taiwan, pulau Paskah, Hawaii dan
Selandia Baru.
Hipotesis migrasi lain yang dinyatakan Bellwood dalam bukunya
yang diterbitkan pada tahun 1985, menjelaskan bahwa mungkin orang
Melayu masuk Indonesia melalui Taiwan dan Filipina dan setelah itu
menyebar ke Indonesia melalui semenanjung Malaysia ke Asia Tenggara
dalam dua gelombang.
Vlekke mengeluarkan teori lain, bahwa orang Proto Melayu
merantau sebelum 3000 SM dari Yunnan melalui Indo Tiongkok untuk
mencapai Indonesia. Kelompok kedua yang lebih canggih berasal dari
daerah Yunnan mungkin merantau kira-kira antara 300 sampai 200 SM
(Vlekke 1947: 6).
Dalam diskusi dengan akademikus di Jambi mereka menyatakan
sampai sekarang tidak ada cukup bukti bahwa orang Kubu, termasuk orang
Rimba berasal dari keturunan orang yang sudah ada sebelum datangnya orang
Proto atau Deutro Melayu. Mereka juga berpendapat bahwa ras-ras yang
31
disebut diatas, dewasa ini sudah dicampuri dengan kelompok lain.
Sebenarnya, ciri-ciri fisik orang Rimba, tidak terlalu jauh berbeda dari orang
Melayu.
Mengenai cara hidupnya Lee menulis tambahan berikut: “Cultural
man has been on earth for some 2.000.000 years; for over 99 per cent
of this period he has lived as a hunter gatherer... Of the estimated 80
Bilion men who have ever lived out a lifespan on earth over 90
percent have lived as hunter gathers” (Lee and DeVore 1968: 3)
Atau diterjemahkan penulis sebagai berikut: Manusia berbudaya
sudah berada di dunia sejak 2 juta tahun yang lalu; Lebih dari 99
persen dalam rentang waktu itu mausia hidup dengan cara berburu dan
meramu …..dari sekitar 80 milyar manusia yang pernah hidup di bumi
lebih dari 90 persen hidup dengan cara berburu dan meramu.
Artinya, hidup orang Kubu tidak jauh berbeda dari kebanyakan
manusia di dunia.
2. Sejarah
Salah satu sejarah tertulis pertama mengenai Jambi dicatat oleh
Yijing seorang Tiongkok yang belajar bahasa Sansekerta pada tahun 671 dan
689. Artinya peradaban tinggi sudah lama ada di Sumatera (Andaya 2001:
315).
Permulaan abad ke 11 kerajaan Sriwijaya menguasai sebagian
selat Malaka serta melakukan perniagaan dan memiliki hubungan sosial
dengan mancanegara termasuk Tiongkok dan Chola sebuah kerajaan di India
selatan. Sekitar tahun 1025 kerajaan Chola menyerang kerajaan Sriwijaya
dan menguasai daerahnya. Menurut informan penulis, mungkin pada saat itu
beberapa penduduk yang tidak ingin dikuasai oleh penguasa mengungsi ke
32
hutan. Mereka disebut orang Kubu (arti kata “Kubu” mungkin: benteng)
membangun komunitas baru di daerah terpencil.
Di dekat kota Jambi ditemui beberapa candi dan tulisan tanggal
tahun Caka 986 atau 1064 M. Kelihatannya salah satu batu dari tempat
arkeologi tidak berasal dari Jawa tetapi mungkin dari pedalaman Jambi.
Artinya, mungkin sudah ada hubungan antara penduduk dari pesisir dan
pedalaman. Kerajaan Majapahit yang menguasai bagian Sumatera menjadi
contoh par excelen untuk menyatukan Indonesia. Sebenarnya, semboyan
Indonesia modern ‘Bhinneka tunggal ika’, atau berbeda beda tetapi tetap satu
juga (unity in diversity), didapat dari puisi Majapahit yang memiliki
keinginan untuk menyatukan nusantara. Pada abad ke14 proporsi penduduk
yang berasal dari luar, khususnya dari Tiongkok bertambah.
Beberapa arca Budha ditemukan di Sarolangun, dan kelihatannya
ada sebuah kerajaan kuno di Muara Sungai Tebo. Di kampung lubuk di
Sarolangun, ditemukan beberapa pondasi dari reruntuhan yang mungkin
imerupakan reruntuhan bangunan Hindu yang terdiri dari batu merah.
Kelihatannya di daerah ini banyak mendapat pengaruh budaya Minangkabau,
Jawa dan India. Di Muarabungo terdapat adat matrilineal yang terdiri dari
ekso-dan endogami.
Pada tahun 1509, kaum niaga Portugis datang ke Malaka. Waktu
itu jumlah penganut Islam masih rendah, tetapi umumnya kaum niaga
penganut Islam. Perniagaan di selat Malaka berkembang setelah orang Arab
dan orang Eropa masuk. Pada saat pertama kali pedagang Belanda masuk ke
33
selat Malaka, Indonesia dikenal sebagai "Portugaels Indien" atau Indonesia-
Portugis.
Pada tahun 1512 Tomé Pires mencatat bahwa penduduk Jambi
lebih mirip orang Palembang dan orang Jawa dibandingkan mirip dengan
orang Melayu. Pada abad 16 daerah Batanghari hulu menjadi daerah
perantauan Minangkabau (Andaya 1993: 14).
Dalam tulisan dari tahun 1637 disebutkan bahwa kapal laut niaga
asal Inggris dan Belanda berada di pelabuhan kota Jambi. Pada tahun 1653
sebuah surat menyebutkan bahwa kapal laut pedagang Vogel yang berada di
pelabuhan Jambi mengadu kepada raja Jambi bahwa ada kapal niaga Portugis
di pelabuhannya (Wellan 1925: 852-857).
Dengan aktivitas niaga yang digambarkan diatas dapat ditarik
kesimpulan bahwa perniagaan sudah beberapa abad dilakukan di Palembang
dan Jambi. Terdapat permintaan niaga dari Arab, Tiongkok, India, Persia, Sri
Lanka, Indonesia, Portugis, Inggris dan Belanda, untuk memuat bahan yang
tersedia di pelabuhan tengah Sumatra. Walaupun kuantitas niaga mungkin
kecil, orang Kubu memiliki pengetahuan geografis serta ketrampilan untuk
berburu atau memanfaatkan hasil hutan di hulu sungai, dengan hubungan lalu
lintas sungai yang cukup baik untuk mengirim atau bertukar hasil hutan.
Barang yang diniagakan mungkin termasuk: gading gajah dan cula badak
(Rhinoceros sumatrensis), gading burung enggang (Buceros rhiniceros),
lebah madu, tawon lilin, getah jelutung (Dyera Costulata), damar
(f:Dipterocarp), bahan warna, jernang yang didapat dari beberapa jenis rotan
34
(Detemonorhops spp.), getah pohon (viz gutta percha) dari jenis
(f:Sapotaceae), beberapa obat, kulit ular, bahan kemenyan dari pohon (Pinus
sumatrana), kayu yang harum (Aquilaria spp atau jenus Gonystylus), kayu
besi dan mungkin beberapa kerajinan tangan yang ditukarkan atau digunakan
sebagai alat pembayaran kepada kerajaan supaya eksistensi orang Kubu aman
dan mereka dibiarkan (McKinnon 1992 :130). Demikianlah tampaknya
hubungan orang Kubu dengan orang luar sudah menjadi kebiasaan untuk
menambah kebutuhan makanan atau mendapatkan sesuatu, seperti bahan
buatan besi, misalnya peralatan pisau, senjata, serta peralatan perburuan,
perumahan dan lain-lain.
Sudah lama terjadi persaingan dalam beberapa hal seperti politik
dan akses hasil hutan antara hulu dan lilir sungai Batang Hari. Pada tahun
1688 pangeran Pringgabaya yang berasal dari Jambi, bertikai dengan
saudaranya dan pindah ke Muara Tebo yang diberi nama Mangunjaya yang
letaknya strategis. Kerajaan baru tersebut mempunyai hubungan baik dengan
Pagaruyung, dan orang Rimba menukar hasil hutan melalui Jenang, seorang
perantara, serta membayar upeti kepada raja (jajah), dan menerima hadiah
(serah) yang terdiri dari kain dan pisau seperti parang, tembilang atau
beliung dari kerajaan (Andaya 1993 : 133).
Walaupun pada tahun 1820 Palembang di bawah kekuasaan
kolonial secara penuh, Jambi masih bertahan sampai tahun 1906. Program
transmigrasi ke Sumatera tengah dimulai waktu kolonial dan dilanjutkan
sampai beberapa tahun lalu. Pada tahun 1970an dan sebelumnya, menebang
35
kayu sekitar bukit Duabelas menjadi industri besar. Menurut laporan yang
dikeluarkan oleh Worldbank kelihatannya dalam waktu 20 tahun lagi sudah
tidak akan ada hutan lagi di propinsi Jambi. Pada tahun 1980an daerah
selatan dari bukit Duabelas dibuka untuk pemukiman transmigrasi dan lahan
dibuka untuk perkebunan karet dan terutama untuk perkebunan sawit. Tahun
2002 Tanam Nasional Bukit Duabelas di resmikan.
3. Mitos dan Sejarah Lisan
Sebelum kita berbicara mengenai sejarah orang Kubu, kita harus
menyadari bahwa kelompok Kubu ternyata terdiri sedikitnya 2 kelompok
besar di daerah hulu sungai Batanghari, batang Tembesi dan batang
Merangin. Walaupun banyak ciri-ciri peradaban mereka mirip, juga ada ciriciri
yang berbeda. Suku Kubu yang tinggal sebelah timur batang Tembesi
dan sebelah utara Batanghari dikenal sebagai suku Kubu atau lebih cocok
disebut orang Batin Sembilan. Menurut sejarah lisan asal usul mereka
berbeda dari masyarakat tradisional yang tinggal sebelah barat sungai
Tembesi dan barat sungai Batanghari sebelum gabung dengan Batang Hari.
Keturunan orang Batin Sembilan mungkin berasal dari Melayu yang pada
waktu lampau bercampur dengan perantau lain, seperti orang dari
semenanjung Malaka dan Jawa.
Pada waktu lampau beberapa ahli antropologi tertarik dengan daerah
tradisional orang Kubu di Sumatera tengah. Forbes menggambarkan kepada
pembaca asal usulnya yang sangat pendek. Menurut cerita yang dia dengar,
36
mereka keturunan dari saudara termuda yang tidak disunat, sebab di
sekitarnya tidak ada alat yang cukup tajam untuk melakukan penyunatan.
Pemuda merasa malu, sehingga dia mengungsi ke hutan dan berpisah dari
kelompoknya serta dua saudara laki-lakinya yang sudah disunat. Menurut
mitologi orang Kubu Sumatra tengah mereka memang keturunan dari saudara
yang mengungsi ke hutan (Forbes 1884: 124).
Orang Kubu dmenceritakan kepada Van Dongen bahwa mereka
keturunan dari pasangan saudara dan saudari kapal bajak, yang dilepaskan
oleh nahkoda waktu perempuan itu hamil muda di kapal. Mereka diturunkan
di pantai hulu sungai di Sumatera. Pasangan tersebut memiliki banyak anak
dan membangun kampung Ulu Kepajang dekat dusun Penamping di sungai
Lalan. Menurut pendapat van Dongen Kubu atau ngubu artinya hutan. Masih
ada banyak orang Kubu yang tinggal sekitar lokasi Ulu Kepajang. (Van
Dongen-- :1850)
Menurut dongeng-dongeng Jambi, perantau dari Malaka, Johor,
Patani serta Jawa, pindah ke daerah daratan rendah Jambi. Mereka bercampur
dengan orang asli dan orang yang berasal dari Minangkabau termasuk dari
kerajaan Pagaruyung (Dharmacraya). Juga ada mitos mengenai garis
keturunan orang Kubu yang diceritakan kepada Damsté oleh kepala laras
Datoeq Padoeko Soetan yang ceritanya berikut ini. Konon peristiwa pada
waktu lampau Daulat yang dipertuan dari Pagaruyung duduk di batu di
pinggir sungai setelah dia sholat. Dia masukkan sirih ke dalam mulut,
kemudian dia mengeluarkannya, selanjutnya batu yang dia duduki bergerak
37
dan dia sadar bahwa sebenarnya dia duduk di atas kura-kura besar yang ada
di sungai. Dengan kekuasaan Allah, kura-kura tersebut bunting dan
melahirkan anak manusia laki-laki, sebab kura-kura menelan sirih yang
dikeluarkan oleh raja. Tiap hari beberapa anak kampung bermain di sungai
dan anak manusia laki-laki itu ikut bermain dengan mereka. Setelah bosan
bermain, anak manusia kura-kura itu pulang ke ibunya. Kabar mengenai anak
kura-kura didengar raja kemudian raja menyuruh mencari anak tersebut
supaya dibawa ke istananya. Raja Pagaruyung bertanya kepada anak siapa
bapaknya. Anak langsung menujuk kepada raja, dia sangat heran dan
bertanya kepada anak tersebut bagaimana dia menjadi bapak anak kura-kura.
Anak tersebut menjawab bahwa menurut ibunya, waktu raja duduk diatasnya
dan mengeluarkan sirihnya yang ditelan ibunya, dia langsung hamil dan
melahirkan dia. Raja berpikir beberapa saat dan berkata bahwa sebetulnya
anak itu benar dan peristiwa itu terjadi. Lalu raja mengumumkan kepada
rakyat bahwa anak tersebut, yang ibunya tenggelam waktu bajir, adalah
benar-benar anaknya. Beberapa tahun kemudian, raja Daulat yang dipertuan
dari Pagaruyung, menjelaskan kepada kepala daerah, bahwa anaknya akan
menjadi raja negeri dari kota Tujuh, Sembilan Kota, Pitajin Muara Sebo,
Sembilan Luruh sampai daerah terpencil Jambi. Mereka semua senang, tetapi
pada waktu singkat mereka mendapat kabar bahwa anak tersebut adalah
keturunan dari kura-kura. Setelah mereka tahu asal usul raja, mereka tidak
setuju dan tidak menerima raja yang berketurunan kura-kura sebagai raja
38
mereka. Lalu mereka menyingkir ke hutan dan hidup disana. Itu cerita
sejarah orang Kubu (Damsté 1901: 281-284).
Mitologi sejarah dari kepala suku Kubu, Datu Husin di Silang
Pungguk, berbeda dengan cerita yang disampaikan oleh Temenggung Tarib
dari suku orang Rimba. Pak Husin menceritakan bahwa ribuan tahun yang
lalu turunlah sembilan orang bersaudara, terdiri dari empat perempuan dan
lima laki-laki. Mereka keturunan dari Raden Nogosari. Sembilan orang
tersebut akhirnya berpisah dan berpencar untuk mencari tempat hidup di
lembah-lembah. Itulah legenda keberadaan orang Kubu di Jambi.
Beberapa mitos-mitos lisan mengenai putri cantik Pinang Masak dari
Minangkabau diceritakan. Dia menjadi ratu di Sumatera dan dikenal oleh ratu
Majapahit sebagai ratu Jambé. Juga ada mitos tentang Iskandar Zulkarnain
(Alexander the Great) dan menurut salah satu mitos orang Kubu mereka
sebenarnya prajurit Iskandar Zulkarnain (Andaya 1995: 8).
Temenggung Tarib menceritakan bahwa menurut sejarah lisan orang
Rimba di bukit Duabelas mereka berasal dari kerajaan Pagaruyung yang
merantau ke Jambi. Temenggung Tarib pribadi menjelaskan bahwa memang
dia bisa berhitung sejarah sampai 6 generasi lalu. Ahli antropolog asal dari
Jambi menjelaskan kepada penulis bahwa kelompok yang tinggal dekat
Temenggung Tarib menceritakan kepada ahli antropolog bahwa menurut
sejarah lisan orang Rimba itu, mereka bisa berhitung sejarah dari nenek
moyangnya sampai 10 generasi. Artinya, orang Rimba memiliki sejarah lisan
dalam jangka 300 sampai 500 tahun, atau kurang lebih dari abad ke16 atau ke
39
17. Sebenarnya jelas bahwa dari cerita diatas sangat sulit menggambarkan
peristiwa pada masa lalu.
Demikian juga, menurut pengamatan logat dan bahasa yang
digunakan oleh penduduk propinsi Jambi, dipengaruhi oleh Minangkabau,
Jawa dan Bugis. Selain dari pengaruh bahasa juga ada pengaruh dari budaya
Jawa yang diterima oleh penduduk pesisir pantai dan daratan rendah dari
Palembang sampai kota Jambi. Pengaruh dari budaya Bugis dapat dilihat di
daerah Tungkal dan sekitarnya. Pengaruh budaya Minangkabau dapat dilihat
di daerah bagian barat Tembesi.
40
BAB III
KEHIDUPAN ORANG RIMBA DAN BATIN SEMBILAN
1. Pola Pemukiman dan Lingkungan
Kelompok Temenggung Tarib di Bukit Duabelas, merupakan salah
satu kelompok yang bertekad untuk mengikuti gaya kehidupan yang
diturunkan oleh nenek moyang sebaik mungkin. Tempat pemukiman
terdiri dari beberapa kediaman yang terletak beberapa ratus meter dari
rumah (bubangan) Temenggung Tarib. Bubangan bertiang yang didiami
oleh Temenggung Tarib terdiri dari dinding kayu, atap dari daun, yang
lantainya kira-kira 2 meter tingginya dari tanah. Penulis mengamati tempat
kediaman lain yang dikenal dengan nama sampaeon. Tempat kediaman ini
lebih sederhana, dengan lantai kira-kira setengah meter tingginya dari
tanah. Lantai dibuat dari batang kecil kayu bulat dan atapnya dibuat dari
plastik hitam yang didapat dari pasar mingguan hari Jumat di Paku Aji.
Untuk rumah sementara, misalnya waktu mereka memburu binatang atau
sedang pindah ke tempat lain saat melangun, mereka membuat pondok
bernama sudung yang bentuknya sederhana tanpa lantai tetapi dengan atap
saja. Sudung itu cepat dibangun untuk pelindungan di waktu malam.
Semua keluarga punya tempat tinggal sendiri yang terletak beberapa meter
dari rumah lain dengan dapur sendiri.
Dekat pemukiman mereka tersebar bekas kertas dan plastik
pembungkus yang dibawa dari luar. Sering terjadi kontak dengan orang
41
dusun yang mencari jasa orang Rimba seperti menangkap burung hiasan
atau memburu babi hutan (Sus vitatur) yang berada di perkebunan orang
dusun, atau orang dusun membeli ubi kayu (Manihot uthlissima) dan
sebagainya. Pemukiman orang Rimba terletak disebelah ladangnya.
Mereka menanam ubi kayu (Manihot uthlissima) atau perkebunan kecil
pohon karet (Helvea brassiliensis). Sudah lama mereka mengelola atau
potong (menyadap) pohon karet disekitar pemukiman mereka. Rumahrumah
tidak berdinding kecuali rumah Temunggung Tarib.Terlihat nyata
bahwa alam sangat dekat dan tempat-tempat kediaman menjadi bagian
lingkungan mereka.
Samping harta benda pribadi seperti rumah, peralatan berburu,
peralatan perumahan, kain, pakaian dan lain-lain. Ada harta yang bersamo
dan yang tidak bersamo. Misalnya, pada umumnya saat mereka membuka
ladang dilakukan sebagai aktivitas gotong-royong tetapi kemudian ladang
dibagi antara keluarga inti setelah tanah di buka dan kayu bekas di tempat
itu dibakar. Setiap keluarga mendapat bagian tanah yang digunakan untuk
menanam bahan makanan pokok seperti ubi kayu. Pohon-pohonan yang
bernilai tinggi dan ubi kayu yang ditanam sendiri adalah harto yang tidak
bersamo.
Memburu binatang di hutan dilakukan sendiri atau dilakukan oleh
beberapa anggota kelompok orang Rimbo. Mereka mungkin pergi jauh
dari hunian dan tinggal di hutan beberapa hari sebelum mereka kembali
42
dengan hasil buruan. Waktu itu ada satu atau dua orang laki-laki yang
menjaga perempuan dihunianya.
Ketika orang Rimba menemukan pohon di hutan yang menjadi
bagian tanah tradisional mereka, dan pohon tersebut bernilai guna tinggi,
seperti pohon kedondong dengan sarang lebah, atau durian yang belum
dimiliki,orang itu bisa memberi tanda kepemilikannya di batang atau
sekitarnya supaya orang Rimba lain tahu pohon itu tidak harto samo,
tetapi milik pribadi.
Radcliff-Brown menulis mengenai penduduk pulau Andaman.
“The economic life of the local group, though in effect to a sort of
communism, is yet based on the notion of private property. Land is
the only thing that is owned in common... hunting grounds of a
local group belong to the whole group...There exist a certain
private ownership of trees.... another man would not cut it down
without first asking the owner to give him permission to give him
the tree” (Radcliff-Brown 1922: 41)
Atau diterjemahkan penulis sebagai berikut: Kehidupan ekonomi
kelompok, walaupun sebenarnya semacam jenis komunisme,
ternyata berdasar keberadaan milik pribadi. Hanya tanah yang
merupakan milik seluruh masyakat, …. Daerah perburuan
kelompok lokal adalah milik seluruh kelompok… Ada pohonpohon
yang menjadi harta pribadi …. seseorang tidak menebang
suatu pohon sebelum mendapat ijin pemilik.
Buang air kecil atau air besar biasanya di lakukan di daratan,
supaya tanah langsung dipupuki dan sungai yang digunakan untuk air
minum tidak dicemari. Memiliki anjing - anjing dalam bahasa Rimba
disebut dengan konotasi lucu penjilat burit (penjilat pantat) - sangat
berguna. Disamping membantu orang Rimba berburu, anjing juga
menolong untuk membersihkan pantat anak dan bayi.
43
Beberapa kali diamati anak yang bermain di sungai atau
perempuan mencuci sarung. Walaupun mereka jarang atau tidak memakai
sabun, kelompok tersebut kelihatannya tidak menderita masalah kulit atau
bau badan. Menurut kepercayaan orang Rimba menggunakan sabun akan
dimarahi oleh dewa-dewi.
Orang Kubu kelompok Batin Sembilan yang dipimpin oleh kepala
suku Pak Dato Husin desa Muara Singeon, di pemukiman Pungguk Silang,
terlihat jauh berbeda. Ada sekitar 50an rumah yang dibangun oleh
pemerintah pada tahun 1999 di pinggir perkebunan swasta kelapa sawit.
Ada beberapa toko sangat kecil yang menjual bahan pokok. Ada sekolah
dasar dengan dua guru dan seorang kepala sekolah serta musholla dengan
seorang ustad. Mereka kadang-kadang mencari nafkah di hutan yang tidak
luas lagi yang jaraknya beberapa kilometer dari pemukimannya.
Perkebunan swasta adalah tempat terdekat mencari nafkah. Penghasilan
buruh perkebunan tujuh ribu rupiah per hari saja, berkerja tiap hari dari
jam enam pagi sampai kira-kira jam satu sore. Dengan traktor mereka di
jemput dan diantar setiap hari. Walaupun lapisan masyarakat terbawah
berhak mendapat kartu sehat, tetapi penduduk Pungguk Silang belum
mendapatkannya kecuali seorang saja (Weintré, 2000: 17). Kurangnya
kesempatan menjadi alasan beberapa penduduk untuk pindah ke luar
pemukiman dan beberapa rumah sudah kosong. Perundingan antara
pemerintah dan perusahaan eksploitasi minyak memutuskan bahwa orang
44
Kubu di Pungguk Silang mendapatkan beberapa juta per KK sebagai uang
ganti rugi pembangunan infrastruktur lapangan minyak di dekatnya.
2. Mata Pencarian
A. Makanan dan Hasil Hutan
Secara tradisional pada dasarnya kebutuhan makanan pokok dan
kebutuhan lain dipenuhi oleh hutan. Gaya hidup tradisional terdiri dari
berburu dan meramu (hunting and gathering). Di hutan mereka meramu
buah-buahan, ubi, binatang kecil, kayu, dan damar yang pada umumnya,
tetapi tidak selalu, dilakukan oleh kaum perempuan. Kaum laki-laki
memburu binatang di hutan dan membuka hutan untuk ladang. Kaum lakilaki
menebang pohon dan kaum perempuan memotong tumbuhan kecil.
Pada umumnya mereka menggunakan uang hanya dengan orang luar
(terang).
Memburu binatang besar dilakukan oleh laki-laki dan pola berburu
bergantung pada musim. Ada 3 jenis babi yang ditangkap, babi hutan (Sus
vitatur), babi jengkot (sus barbatus) atau babi biasa (sus scrofa). Diburu
juga rusa (Cervus equimus) dan kijang (Cervulus muntjac). Menangkap
burung seperti tiung (Gracula relegiosa) elang (Haliastur indus) dan
gagak (Corvus macroynchus) serta, tupai atau poso (Lariscus insgnis) dan
lain-lain.
Kaum laki-laki mempunyai hak untuk berburu. Kaum perempuan,
pada umumnya isterinya, mempunyai hak untuk membagi yang diburu
45
atau ditangkap oleh seorang laki-laki. Waktu mereka mencari makanan
sendiri atau dengan keluarganya di sungai mereka menangkap harto
sendiri, seperti siput (Molusca gastropoda), belut (Monopterus) atau ikan
seperti lembat (Melapterurus electricus) atau kodok (kodoq atau
beretong), kura-kura dan labi-labi (lelabi, dedaray, pangkaq) dan ular
(piahi) termasuk ulo sao (Python retculatus). Mereka menangkap di
daratan ulo pandoq (Python curtus) termasuk kobra atau ular sendok,
todung, gerom (Naia spp) atau beberapa jenis burung.
Kadang-kadang anak-anak menangkap kelewar (kelelawor) kecil,
sebagai makanan jajanan. Kalong besar keleluang (mungkin Pteropus
vampyrus) atau kalong yang memakan serangga, beyut (mungkin
Cheiromeles torquatus) juga ditangkap dan sebenarnya sumber protein
penting.
Disamping berburu, perempuan dan laki-laki meramu ubi dan
buah-buahan. Mencari ubi memakan banyak waktu, tetapi menurut
informan rasa ubi liar lebih lezat dibandingkan ubi ladang. Beberapa ubi
diambil dari hutan, seperti ubi kulit halus benor licin yang ukuran
besarnya sampai 40-50mm tebal dan sampai beberapa meter panjangnya.
Mereka harus menggali sampai kedalaman satu meter. Ubi rambat, benor
bobulu yang dalamnya sampai setegah meter yang bisa berhasil 30-40 kg.
Benor godong atau ubi besar hanya 300mm dari permukaan daratan yang
akarnya sampai 30-40 meter dari ubi induk. Mereka juga berhasil
46
mendapatkan ubi yang beracun. racun pada ubi itu dipakai untuk
mengerdilkan ikan.
Disamping hasil ubi liar ada hasil dari ladang seperti ubi kayu
(Manihot uthlissima) atau mungkin keladai (Colacia esculinta). Sering
diantara garis tanaman ubi kayu, bibit buah-buah seperti durian (Durio
Zebetinus), rambutan (Nedphelium lapcium), duku atau langsat (Lancium
domisticium) atau pohon karet (Helvea brassiliensis) ditanam. Mereka
juga tertarik menanam sesuatu yang manis seperti tebu (Saccharum
offiTiongkokrum).
Seperti yang dikatakan tadi, sejarah tukar menukar (barter) dengan
dunia luar sudah terjadi sejak masa lampau. Keperluan orang Rimba
seperti alat besi untuk dapur atau parang serta pisau, atau kain yang sudah
lama yang digunakan untuk membayar denda, membayar ganti-rugi atau
sebagai mas kawin didapat dari pihak dari luar. Barter juga bisa dilakukan
untuk memperoleh makanan sewaktu kelaparan. Orang Rimba juga harus
memenuhi retribusi yang diminta oleh kerajaan hilir sungai untuk
melestarikan keadaan damai di tempat orang Rimba dan untuk mencegah
masuknya orang terang atau orang luar ke hutan.
Pada waktu lampau hasil dari kegiatan berburu dan meramu ditukar
dengan pedagang di pinggir sungai. Barang yang mau ditukar oleh orang
Rimba ditinggalkan di pinggir sungai yang diketahui pedagang yang
melewati tempat itu. Pada waktu pedagang lewat, dia menaruh barangnya
yang ingin ditukar dan setelah itu dia akan kembali lagi. Orang Rimba
47
kembali ke tempat penukaran setelah pedagang tak ada disana dan
memilih yang diinginkan dari barang yang dimiliki pedagang. Mereka
menaruh barang hasil hutan mereka yang menurut mereka setara dengan
barang dari pedagang yang mereka pilih. Pedagang atau orang Terang
kembali dan mengambil atau merubah yang dia ingin ditukar. Proses itu
diulangi sampai kedua pihak puas tanpa komunikasi visual. Pada akhirnya
proses penukaran selesai dan orang Rimba mengambil barang yang
ditawarkan oleh orang Terang dan lalu bersembunyi dan masuk ke hutan.
Proses penukaran itu, dilakukan menurut antropolog-antropolog pertama
yang menulis mengenai keadaan orang Kubu. Dewasa ini proses
penukaran sudah berubah. Mereka masih menggunakan orang yang
bergelar Jenang yang ditugasi untuk pengantar antara orang Kubu dan
Terang. Walaupun dia dipilih oleh orang Kubu sehingga dia berhasil
menjalankan tugasnya, sebab dia bisa menjual barang dengan harga yang
lebih tinggi. Kelompok yang dijumpai penulis tidak perlu menggunakan
jasa Jenang lagi.
Pada waktu lampau, hasil hutan yang ingin ditukar oleh orang
Terang adalah gading, beberapa getah, jernang (Daemonorops hyigrophilus),
jelutung, lilin, damar (parashorea stellana) yang pada umumnya
dari pohon keluarga dipterocarp, dan lain-lain. Mereka tertarik dengan hal
yang terbuat dari besi, kain dan rokok.
Dewasa ini, pola niaga berubah dan kelompok orang Rimba
menyediakan barang seperti getah karet (Hevea brassiliensis), ubi, getah
48
jelutung, getah jernang, rotan khususnya rounton sego (Calamus caesius),
manau (Calamus ornatus) dan daging babi hutan (celeng, 1000 rupiah per
kilo) yang dijual ke orang transmigran, orang dusun atau ke toke. Orang
Rimba juga terlibat menjual kayu. Ada rencana untuk menyediakan hasil
dari kelapa sawit.
Jumlah harta benda yang sudah terkumpul dalam waktu beberapa
tahun seperti kain, pakaian modern, radio. Juga, penulis bertemu seorang
Rimba yang memiliki sepeda motor bekas, yang sebenarnya mempersulit
dalam pola hidup nomaden dan tradisi melangun.
B. Peralatan, Komunikasi & Seni
Nomaden didefinisikan sebagai orang yang memiliki harta benda
minimal, termasuk barang seni dan alat teknologi yang minimal pula.
Sebetulnya, gaya hidup orang Rimba hampir tabu
untuk memiliki atau menambah harta benda yang tidak
termasuk kebutuhan primer atau memiliki barangbarang
yang menyulitkan untuk berpindah-pindah.
Kelihatannya menurut kosmologi orang Rimba, mereka
tidak terdorong atau tergoda mempunyai harta benda.
Mungkin alasan itu yang menyebabkan mereka tidak
merasakan adanya kecemburuan dan iri hati. Untuk memburu, membuka
ladang, menebang pohon, dan
lain-lain mereka memakai
kampak untuk
menebang pohon
Parang untuk menggarap ladang
49
peralatan yang terbuat dari kayu dan besi.
Kuantitas jenis kerajinan tangan terbatas. Ada kerajinan yang
dibuat dari bambu, daun, rotan, rumput, kayu dan kulit. Seperti tikar untuk
membungkus barang atau sebagai tempat tidur, dan wadah untuk tempat
makanan, ubi, kain, damar, madu, garam dan lain-lain. Wadah-wadah
berfungsi sebagai tempat menyimpan, untuk membawa barang dan untuk
melengkapi sistem adat, atau sebagai alat tukar-menukar dalam upacara
perkawinan.
Sebelum memiliki kain untuk membuat cawat (kancut) orang
Rimba membuat cawat dari kulit kayu yang dipukul-pukul hingga lembut.
Sudah lama laki-laki memakai cawat dari kain dan perempuan memakai
kain panjang yang dikenakan dari pusar sampai di bawah lutut atau
kadang-kadang betis. Pakaian seperti itu merupakan pakaian tradisional
orang Rimba yang memudahkan mereka bergerak cepat di dalam hutan,
karena mereka perlu untuk mengejar binatang buruan atau untuk
menghindari dari hal-hal yang berbahaya. Pada umumnya, saat mereka
pergi ke pasar mingguan atau keluar hutan untuk pergi ke dusun, laki-laki
sering memakai celana dan perempuan menutupi badannya agar mereka
tidak merasa malu, demi menghormati budaya dusun serta agar diterima
dengan baik.
Menyaksikan tarian, mendengarkan nyanyian, pantun atau seloka
sulit sekali. Kebanyakan tarian dan nyanyian adalah bagian upacara yang
tidak terbuka bagi orang luar. Pada saat penulis disana, seorang Rimba
50
bernyanyi lagu yang digunakan untuk mengambil sarang madu dari pohon
yang tinggi.
Forbes bertemu orang Kubu pada tahun 1885 disekitar sungai
Musi. Dia mengatakan bahwa mereka punya bahasa sendiri yang tidak bisa
dimengerti oleh suku tetangga. Pada awalnya, dia tidak mengerti
bahasanya, tetapi semakin lama semakin banyak dia mengerti tipe bahasa
dan logat Melayu mereka. Pada waktu ekspedisi tahun 1878, pemandu
yang berasal dari Jambi tidak mengerti bahasa orang Rimba, tetapi jelas
bahwa bahasa di daerah bukit Duabelas dipengaruhi oleh budaya
Minangkabau.
“Es mag hier auch daran erinnert werden, dass Menangkabau das
aelteste Malayische element auf der Insel vorsellt und dass
Tradition, Sprache, Sitten und Gebraechen der meisten
Primitivvoelker des mittleren Sumatra (der Kubu, Lubu, Mamaq
Sakai usw.) auf einstigen Zusammenhang mit Menangkabau
hindeuten” (Hagan 1908 :197).
Atau diterjemahkan penulis sebagai berikut:
"Kita harus ingat bahwa budaya Minangkabau adalah elemen tertua
Melayu di pulau Sumatera. Tradisi, bahasa, dan kebiasaan,
kebanyakan masyarakat sederhana di Sumatera bagian tengah
(Kubu, Lubu, Mamaq, Sakai dan lain-lain) punya beberapa
persamaan dengan kebudayaan Minangkabau".
C. Pemunculan Inovasi
Kebudayaan, termasuk budaya orang Rimba, selalu dinamis.
Walaupun tradisi orang Rimba adalah sangat penting, mereka mengadopsi
beberapa inovasi yang berasal dari luar. Sandbukt menceritakan bahwa
hanya beberapa tahun sebelum memulai studi lapangannya, sekitar tahun
1980an, mereka baru menggunakan senter yang dibeli di pasar terdekat.
51
Senter itu menjadi alat baru dalam memburu binatang pada waktu malam.
Penggunaan senter saat berburu pada waktu malam, dapat menyilaukan
atau membutakan (transfix) mata binatang. Dengan menggunakan senter,
pemburu bisa mendekati dan menombak lebih akurat. Dewasa ini
penggunaan senter lebih efektif, antara lain untuk memburu rusa (Cervus
unicolor), kijang (Muntiacus muntjak), napuh (Tragulus napu) dan kancil
(Tragulus javanicus).
Penggunaan baterai juga memudahkan untuk menghidupkan dan
mendengarkan radio atau tape. Pada waktu malam, penulis berkunjung ke
kelompok Gera, yang sedang mendengarkan lagu dangdut dan siaran
radio. Mereka suka berdansa dengan musik itu, dan para remaja cepat
belajar bahasa Indonesia dan nilai-nilai baru.
Sama halnya dengan para remaja di tempat lain, khususnya
perempuan, mereka cepat mengadopsi pakaian yang dipakai oleh gadis
di dusun, sedangkan laki-laki tertarik memakai arloji, yang dijual di pasar
mingguan di pemukiman transmigran Paku Aji. Obat baru seperti Bodrex
dan semacam itu diminum untuk mengatasi gangguan kecil, dan mereka
tertarik jasa yang diberikan oleh Puskesmas.
Waktu penulis disana, ada sebuah kesalahpahaman antara seorang
dari kelompok tradisional dengan seorang dari kelompok pasca tradisional.
Masalah itu diselesaikan oleh kepala desa, dan orang yang terdakwa
didenda dengan membayar ratusan ribu rupiah kepada Temenggung
kelompok tradisional.
52
Ada juga beberapa laki-laki yang mencari nafkah diluar, seperti
menjadi kondektur (kenek) bis jarak jauh, atau yang bekerja dan tinggal di
dusun tetapi pada akhirnya mereka mencari istri dan kembali hidup di
hutan. Penulis juga bertemu orang dusun yang bekerja di perkebunan yang
dimiliki kelompok tradisional orang Rimba.
Menurut aturan tradisional, pemburu wajib untuk menyerahkan
sebagian tangkapannya kepada Temenggung. Namun dewasa ini, tradisi itu
sudah hilang. Pelanggaran aturan adat yang tidak terlalu mengganggu
ketertiban dibiarkan. Temenggung menjelaskan alasannya mengapa sanksi
tersebut dibiarkan, karena bila sanksi diberikan terhadap pelanggaran kecil
semisal di denda, orang yang melanggar aturan, bisa lari ke kelompok lain
atau pindah keluar, yang mana akan melemahkan posisi kelompok orang
Rimba tradisional tertentu.
Pola makan juga berubah. Makanan pokok biasanya terdiri dari ubi
dan daging, terutama daging babi. Akan tetapi dewasa ini, makanan seperti
beras, mie instan, kue-kue dan jajanan lain juga diterima dengan baik.
Pola niaga dengan pihak luar juga berubah. Misalnya pada waktu
lampau, getah dan damar adalah hasil hutan yang dijual ke pihak luar.
Dewasa ini, industri kimia telah menggantikan kebutuhan getah alami
dengan buatan kimia. Rotan bahan penting niaga yang hampir habis, juga
diganti dengan bahan lain.
Sejarah pohon karet di Indonesia sudah panjang. Jenis pohon itu
sebenarnya disosialisasikan oleh pemerintah kolonial kepada orang desa
53
namun ditanam juga oleh orang Rimba sebelum Taman Nasional Bukit
Duabelas diresmikan. Sekarang harga getah karet dibandingkan dengan
hasil sawit kurang baik, itu alasan beberapa orang Rimba terlibat dalam
membuka perkebunan sawit, supaya penghasilan mereka meningkat.
Ada orang Rimba yang tinggal di pinggir Taman Nasional Bukit
Duabelas yang menggunakan emas atau rekening bank yang berupa
tabungan untuk menyimpan harta benda mereka. Dewasa ini, ada program
dari pemerintah dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang
menyiapkan pendidikan formal dan informal. Temenggung Tarib
menyuruh anaknya masuk pendidikan supaya dia dibekali ilmu agar bisa
bertahan di masa depan.
3 Sistem Kekerabatan
Sistem kekerabatan orang Rimba adalah matrilineal yang sama
dengan sistem kekerabatan budaya Minangkabau. Tempat hidup pasca
pernikahan adalah uxorilokal, artinya saudara perempuan tetap tinggal
didalam satu pekarangan sebagai sebuah keluarga luas uxorilokal.
Sedangkan saudara laki-laki dari keluarga luas tersebut harus mencari istri
diluar pekarangan tempat tinggal.
Orang Rimba tidak diperbolehkan memanggil istri atau suami
dengan namanya, demikian pula antara adik dengan kakak dan antara anak
dengan orang tua. Mereka juga tidak menyebut nama orang yang sudah
54
meninggal dunia. Sebenarnya menyebut nama seseorang dianggap tabu
oleh orang Rimba.
Sebelum menikah tidak ada tradisi berpacaran, gadis dan pemuda
laki-laki saling menjaga jarak. Waktu seorang anak laki-laki beranjak
remaja atau dewasa, sekitar umur 14-16 tahun, bila tertarik kepada seorang
gadis, akan mengatakan hal tersebut kepada orang tuanya. Lalu orangtuanya
akan menyampaikan keinginan anak mereka kepada orang tua si
gadis dan bersama-sama memutuskan apakah mereka cocok. Pernikahan
yang terjadi antara orang desa dan orang Rimba, sama dengan antara anak
kelompok Rimba dan kelompok Rimba lain.
Ada tiga jenis perkawinan, yaitu; pertama dengan mas kawin.
Kedua, dengan prinsip pencurahan, yang artinya laki-laki sebelum
menikah harus ikut mertua dan bekerja di ladang dan berburu untuk dia
membuktikan dirinya. Ketiga, dengan pertukaran gadis, artinya gadis dari
kelompok lain bisa ditukar dengan gadis dari kelompok tertentu sesuai
dengan keinginan laki-laki dan gadis-gadis tersebut. Orang Rimba
menganggap hubungan endogami keluarga inti (saudara seperut/suadara
kandung) atau hubungan dengan orang satu darah, merupakan sesuatu
yang tabu. Dengan kata lain, perbuatan sumbang (incest) dilarang, sama
halnya dengan budaya Minangkabau.
Mayoritas pernikahan adalah monogami, tetapi ada juga hubungan
poligami atau lebih tepat poligini, yang kelihatannya untuk melestarikan
asal suku. Sebenarnya, adalah alasan sosial lain, samping melindungi
55
sumber anak adalah keinginan untuk memelihara janda atau perempuan
mandul. Poligini jarang jadi di kelompok Temenggung Tarib. Umur
harapan hidup laki-laki lebih pendek daripada harapan hidup perempuan
dan perempuan selalu diutamakan, pada umumnya pekerjaan berbahaya
dilakukan oleh laki-laki. Kaum kerabat merupakan sumber semua bantuan.
Kelompok Temenggung Tarib terdiri dari 28 pesakan atau Kepala
Keluarga (KK) dengan jumlah kira-kira 100 jiwa. Sebenarnya kelompok
ini terbagi dua, yaitu di tempat Semapui yang berjumlah 9 KK dan di
tempat dekat Paku Aji 19 KK. Temenggung Tarib sendiri pernah bercerai
dan kawin lagi. Dia mempunyai 8 anak kandung, 3 jenton dan 5 betino,
ditambah satu anak angkat betino.
Penulis juga melakukan studi lapangan di kelompok Biring.
Kelompok Biring terdiri dari 2 kelompok. Kelompok pertama, tinggal di
hutan dibawah pemimpin Gera terdiri dari 6 KK saja. Kelompok kedua
yang terdiri dari sekitar 12 KK sudah dibina, masuk Islam dan mendapat
paket bantuan dari Depsos.
Kebudayaan orang Rimba juga mengenal sistem pelapisan sosial.
Temenggung adalah pemimpin utama dalam struktur kelompok., yang
posisinya diwarisi sebagai hak lahir dari orang tua. Tetapi, jika pemimpin
tidak sesuai atau disetujui oleh anggota kelompok, pemimpin bisa diganti
melalui jalur “diskusi terbuka” atau forum yang bisa dilakukan dimana
mana.
56
Menurut Temenggung Tarib, jumlah kelompok yang diwakili oleh
Temenggung naik dari 3 kelompok pada tahun 1980an, sampai 6
kelompok yang di wakili oleh Temenggung di Bukit Duabelas dewasa ini.
Dulu ada kelompok Makekal, Kejasun dan Air Hitam, dewasa ini di
daerah Makekal adalah kelompok yang di Temenggungi oleh Temenggung
Mukir dan Temenggung Merah, daerah Kejasung dengan kelompok yang
dipimpin oleh Temenggung Mijah, Marid, Kecik dan Jelita dan di daerah
Air Hitam adalah kelompok Tarib dan Biring.
Banyak interaksi dan lintas pernikahan (cross weddings) terjadi
antar kelompok, misalnya istri Temenggung Tarib punya darah Makakal
dan orang kelompok Tarib nikah orang kelompok Biring. Hal tersebut
mengakibatkan struktur dan komposisi organisasi sosial hampir sama
dengan kelompok lain. Temenggung Biring setelah pindah keluar dan
menganut agama Islam berganti nama dan sekarang dikenal dengan nama
Pak Helmi. Sebenarnya anggota kelompok Biring serta anggota kelompok
Tarib terpisah. Artinya, ada anggota yang tinggal di hutan secara
tradisional dan ada anggota kelompok yang pindah keluar yang dapat
bantuan dan merubah kepercayaan. Mungkin alasan memisahkan diri
adalah faktor ekonomi atau faktor akulturasi dengan budaya pasca
tradisional.
Menurut mantan Temenggung Biring, pak Helmi, struktur
masyarakat terdiri dari: Temenggung adalah kepala suku. Ketika dia absen
dia diwakili wakil Temenggung. Seorang yang bergelar Depati bertugas
57
menyelesaikan hal-hal yang terkait dengan hukum dan keadilan. Seorang
yang bergelar Debalang yang tugasnya terkait dengan stabilitas keamanan
masyarakat dan seorang yang bergelar Manti yang tugasnya memanggil
masyarakat pada waktu tertentu. Pengulu adalah sebuah institusi sosial
yang mengurus dan memimpin masyarakat orang Rimba. Ada juga yang
bertugas seperti dukun, atau Tengganai dan Alim yang mengawasi dan
melayani masyarakat dalam masalah spiritual dan di bidang kekeluargaan,
nasehat adat dan sebagainya.
Temenggung Tarib sangat aktif mengorganisir hubungan dengan
dunia luar, supaya nasib orang Rimba diketahui. Misalnya dia bertemu
dengan Presiden Megawati Sukarnoputri, menjadi pewakil orang Rimba
dalam Kongres Masyarakat Adat Nusantara di Jakarta, 15-22 Maret 1999
dan wakil orang Rimba untuk Dewan Aliansi Daerah untuk Aliansi
Masyarakat Daerah propinsi Jambi dari periode 1999 sampai sekarang.
Orang Rimba yang tinggal di pinggir Bukit Duabelas berinteraksi
cukup sering dengan orang desa. Kelihatannya orang Rimba yang tinggal
lebih didalam Bukit Duabelas tidak berinteraksi sama sekali. Orang Rimba
sebenarnya sering memerlukan bantuan dari orang Rimba yang bermukim
di pinggir hutan. Mereka minta bantuan untuk mendapat barang dari pasar.
Maksudnya, orang Rimba yang tinggal didalam Bukit Duabelas memesan
barang yang dijual di pasar kepada orang Rimba di pinggir hutan, dan
diambil oleh mereka setelah barangnya sudah didapat.
58
Posisi Jenang, atau penghubung antara orang Rimba dan
pemerintah adalah warisan dari masa lampau, waktu belum sering ada
hubungan dengan luar. Tugas pertamanya beli barang dan jual kepada
pihak tertentu, serta jalur komunikasi dengan luar. Kelihatannya posisinya
terkadang disalahgunakan, itu alasan saat Jenang meninggal posisinya
tidak diisi lagi dan orang Rimba yang sudah cukup biasa dengan prosedur,
melakukan perundingan sendiri dengan luar.
4 Kesehatan
Pada akhir abad ke-18, orang Kubu bertemu dengan orang luar,
termasuk orang Barat. Penyakit menular cacar yang dibawa oleh
pendatang masuk dan mencapai tingkat epidemi dan parah. Beberapa
kelompok dimusnahkan dan jumlah orang Kubu turun drastis. Dengan
latar belakang itu, pertama terkena penyakit menular (cacar), dan kedua,
masalah perbudakan yang menyebabkan ketakutan dan trauma
berhubungan sosial dengan orang luar. Kedua alasan tersebut, mendorong
orang Rimba mencari obat penyembuhan dari tumbuhan hutan dan
ditambah ilmu obat tradisional yang didapat dari nenek moyang.
Beberapa tahun lalu, Temenggung Tarib dalam sebuah proyek
kerjasama dengan universitas yang mengidentifikasikan lebih dari 130
tumbuhan di hutan yang mempunyai substansi yang nampaknya
bermanfaat untuk mengatasi beberapa masalah kesehatan manusia.
59
Walaupun tersedia obat alam, sekarang mereka juga berpendapat
obat pasca tradisional juga bermanfaat. Misalnya, beberapa kali waktu
penulis di Paku Aji orang Rimba diperiksa oleh dokter dan diberi atau
mendapat obat apotek.
Melahirkan anak adalah peristiwa penting bagi orang Rimba.
Perempuan yang siap untuk melahirkan anak diberi minuman tradisional
untuk memudahkan proses melahirkan. Sebetulnya, perempuan yang akan
melahirkan ditolong oleh 2 orang. Seorang yang mendorong anak dari
kandungan dan seorang yang menerima anak pada saat keluar dari
kandungan.
Walaupun demikian, aturan medis modern menolak melahirkan anak
seperti yang digambarkan diatas, tetapi kelihatannya orang Rimba yang
sudah cukup lama menggunakan metode ini, tidak membahayakan
kesehatan si perempuan atau si anak.
Waktu melakukan penelitian, kelihatannya orang Rimba sama
sehatnya dengan orang dusun secara fisik. Kebanyakan masalah kesehatan
orang Rimba adalah Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) yang
mungkin disebabkan oleh kesukaan merokok. Penyakit kulit juga diamati,
yang kemungkinan disebabkan oleh tingkat kebersihan, luka, dan jamur
(fungus) yang sulit diatasi di iklim tropis.
Akibat pembukaan ladang menimbulkan masalah yaitu, jumlah
nyamuk malaria meningkat pesat yang mengganggu kesehatan mereka.
Sebagai akibat banyak beraktifitas yang berat ada gangguan otot dan
60
tulang. Penyakit lain yang mengganggu kesehatan diantaranya: demam,
diare, sakit gigi, anemia, sakit kepala, cacingan, hepatitis dan lain-lain.
Beberapa orang Rimba menderita penyakit kulit losong, yang
memutihkan kulit. Mereka berpendapat bahwa penyakit itu merupakan
denda dari dewinya. Sebetulnya, laki-laki yang menderita penyakit kulit
losong dipaksa membayar denda sewaktu menikahi isterinya. Untunglah
dewasa ini, salep dari apotek mengatasi penyakit kulit losong dalam waktu
beberapa bulan dan penderita penyakit itu tidak bernoda lagi (Stigmatis).
Dari sudut psikologi, terlihat bahwa tingkat gangguan jiwa atau
stres banyak dialami oleh kelompok orang Rimba yang baru dibina.
Perubahan pola kehidupan yang dialami menyebabkan trauma yang
dampaknya bagi orang yang setengah tua atau lanjut usia, lebih sulit
diatasi. Bagi orang Rimba yang masih muda lebih gampang merubah pola
pikir dan cara hidupnya. Untunglah, Mereka yang mau kembali ke hutan,
diperbolehkan. Ada aturan yang mengikat bahwa sebelum masuk atau
kembali ke tempat tradisional, mereka tidak diperbolehkan menggunakan
selama beberapa lama sabun atau mengkonsumsi makanan yang tidak
sesuai tradisi orang Rimba.
Kelihatannya bahwa, Orang Rimba tradisional yang tinggal di
hutan jarang mengalami kesulitan psikologis. Menurut opini dari abad
akhir yang menerangkan “Die Kubu erfreuen sich einer gute Gesundheid
und werden in der Regel alt” atau menurut terjemahan penulis, "Orang
61
Kubu menikmati kesehatan yang baik dan pada umumnya mereka sampai
umur yang cukup lanjut usia" (Andree 1874: 46).
5 Kepercayaan dan Kosmos orang Rimba
Menurut salah satu mitos yang di ceritakan orang Rimba, mereka
berasal dari Pagaruyung (Minangkabau) dan bersumpah bahwa mereka
tidak berkampung, dan tidak makan makanan binatang yang dipelihara
termasuk ayam, bebek, kambing dan sapi. Makanan lain yang haram atau
tabu termasuk telur dan susu.
Dengan pengalaman hidup di hutan dan pengalaman interaksi
terbatas dengan dunia luar, kepercayaan dan kosmologi yang muncul dan
unik serta berbeda dari pola pikir masyarakat umum.
Penulis hanya beberapa minggu di tempat mereka. Informasi
mengenai kosmologi orang Rimba diperoleh dari pengamatan sendiri, dari
informan di Paku Aji dan dari bahan referensi termasuk referensi yang
didapat dari karya Sandbukt yang melakukan studi lapangan di daerah
Bukit Duabelas pada tahun 1980an.
Menurut kosmologi orang Rimba waktu mereka pindah ke dusun
atau orang Melayu menguasai hutan (imigrasi dan transmigrasi) dianggap
sebagai pemusnahan dunia atau kiamat. Pola pikir orang Rimba terkait
dengan kata dasar “layu” artinya, menjadi lesu, kehilangan tenaga atau
seperti bunga yang sudah lewat masa mekarnya dan mati. Sepertinya
sudah menjadi sampah. Ada awalan dalam bahasa orang Rimba “me-”
62
yang berarti, memboroskan, melimpah (Sandbukt 1984, 85-98). Arti
“Melayu" dalam bahasa Melayu tidak jelas.
Juga harus dijelaskan ada hewan landak yang berjenis besar yaitu
landoq (Hysterix brachyma), yang berjenis kecil, yaitu titil bonor
(Atherurus macrourus) dan jenis ekor panjang, yaitu titil kelumbi (Trichys
lipura). Menurut filosofi orang Melayu pada umumnya, kebanyakan
daging dari hutan haram, kecuali satu-dua saja seperti landak. Bagi orang
Rimba, landak termasuk beberapa jenis hewan lain yang tabu. Pada orang
Rimba, makanan haram menurut orang Melayu adalah makanan halal bagi
mereka. Sebaliknya, yang tabu untuk orang Rimba sering halal bagi orang
Melayu.
Dewa Silum-on dilihat sebagai kultivator pohon bambu dan juga
dilihat sebagai orang “me-layu”, tetapi Dewa tersebut juga bisa dipanggil
untuk melakukan hubungan dengan Dewa-dewi lain. Dewa Mato merego
atau Harimau juga diklasifikasikan sebagai orang me-layu, yang cenderung
mengharamkan manusia, termasuk orang Rimba.
Saat orang Rimba mendengar bunyi burung suci, gading, mereka
berhenti dan berdoa supaya mereka bisa memperoleh hal-hal yang baik.
Konsep dunia mereka dibagi halo nio atau dunia disini (dunia
nyata) dan halom Dewa atau dunia di atas (dunia setelah wafat). Kedua
dunia tersebut dikontraskan dengan istilah kasar dan haluy, atau kasar dan
halus yang diatur oleh Tuhan. Tuhannya tidak bisa dilihat seperti juga
Dewa, tetapi bisa didengar sebagai bunyi alam yang keras seperti kicau
63
burung. Dewa-dewi berada di hutan, di puncak bukit, tempat air dan di
pinggir sungai. Dewa-dewi yang tinggal di hulu sungai dianggap sebagai
Dewa yang bermanfaat, Dewa-dewi yang tinggal di hilir sungai, tempat
kebanyakan orang Melayu tinggal, dianggap sebagai pembawa hal-hal
yang jelek seperti penyakit cacar dan pedagang budak.
Peristiwa seperti melahirkan anak, pernikahan, menyembuhkan
seseorang, musim panen atau musim buah, merupakan peristiwa yang
dirayakan dan sajian dibuat untuk menyenangkan Dewa-dewi. Pada waktu
tertentu, mereka membangun sebuah balai atau balay, yang berukuran
sampai 9 x 9 meter di tengah hutan dengan pondok-pondok sementara di
sekitarnya. Balai itu disiapkan untuk salé, suatu ritual dengan nyanyian,
tarian, berhiaskan dengan bunga-bunga, menghidangkan makanan, buahbuahan,
daging, kecuali babi, ubi dan semacamnya. Hal itu dilakukan
supaya hubungan dengan Dewa-dewi lebih baik dan bermanfaat bagi
orang Rimba. Roh nenek moyang orang Rimba dianggap mengawasi
kehidupan, dan dapat dihubungi pada saat upacara salé.
Jiwa atau roh orang yang meninggal dunia berjalan ke alam baka.
Orang yang belum mencapai kehidupan spiritual yang tinggi sebelum
meninggal dunia berjalan ke tempat dekat Tuhan, hentew, (limbo).
Pemimpin spiritual juga berjalan ke hentew, untuk meninggalkan sifat-sifat
duniawi sebelum menuju ke dunia Tuhan serta menjadi malaikat yang bisa
menjadi Dewa bila menyampai tingkat spiritual yang cukup tinggi.
64
Salah satu peristiwa lain yang terkait dengan kosmosnya dikenal
dengan istilah melangun atau berpindah-pindah. Peristiwa itu terjadi bila
mereka merasa kurang puas atau bila ada orang yang meninggal dunia.
Mereka berpindah ke tempat lain supaya bisa re-group lagi sesuai
keinginan mereka serta menghilangkan kesedihan. Orang yang meninggal
dunia ditaruh di dalam pondok, di tempat tidur dengan kelambu tertutup.
Di dalam pondok lampu damar dinyalakan, dan disediakan beberapa hal,
seperti makanan dan beberapa alat untuk berburu. Anjing milik orang yang
meninggal diikat di dekatnya dan kelompok memberi tanda arah tempat
baru, supaya orang yang bangun lagi dari kematiannya bisa ikut melangun
bersama anjingnya.
Sebelum orang luar, termasuk orang Rimba yang mau kembali ke
tempat asli diijinkan oleh Temenggung, mereka perlu menyiapkan diri.
Proses itu memakan waktu minimal selama 3 bulan. Orang yang mau
masuk wajib membersihkan diri, artinya tidak boleh makan makanan yang
tabu, seperti kambing, ayam, bebek, sapi dan telur atau memakai sabun
yang harumnya akan menghina Dewa-dewi mereka.
Menurut informan orang Rimba, mereka merasa takut melawan
orang luar yang membawa senjata tajam. Alasannya, orang Rimba sudah
mengalami kekalahan dan menyadari bahwa mereka diharamkan oleh
orang luar. Persepsi orang Rimba terhadap kelanjutan penggunaan
(sustainable) hutan sudah dimiliki sejak waktu lampau.
65
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan
Di propinsi Jambi terdapat suku-suku yang belum berakulturasi
dengan masyarakat pasca tradisional. Mereka dikenal dengan nama umum
suku Kubu, dewasa ini namanya memiliki konotasi yang kurang baik. Di
propinsi Jambi terdapat beberapa suku Kubu yang masing-masing
memiliki mitos sejarah dan budaya yang berbeda. Walaupun mereka
diklasifikasikan sebagai hunters and gatherers, lokasi dan lingkungannya
berbeda. Mereka tinggal berpindah-pindah dari rawa dekat laut, dataran
sampai kaki pegunungan dan pegunungan di propinsi Jambi. Mereka
memakai pola hidup dan mata pencaharian untuk memenuhi
kebutuhannya. Kebudayaan mereka selalu dipengaruhi oleh perubahan
pola pikir individu dan input perubahan dari luar, artinya budaya orang
asing. Ada beberapa mitos serta sejarah tertulis mengenai asal usul orang
Rimba termasuk orang Kubu. Sejarah tertulis pertama ditulis oleh orang
Tiongkok, mereka berkunjung ke Sumatera bagian tengah dengan alasan
belajar bahasa Sansekerta atau berniaga. Mereka membeli atau tukar
barang di hilir sungai. Orang Tiongkok dan orang Barat mengangkut
kapalnya dengan barang seperti, menyan, beberapa jenis getah, obat alami
dan lain yang diperoleh dari hutan dan pegunungan. Di hulu sungai banyak
pecahan porselin ditemukan yang berasal dari Tiongkok. Dari aktivitas
tersebut diatas bisa disimpulkan bahwa sejak lama orang Rimba disamping
66
sebagai hunters and gatherers juga terlibat perniagaan untuk memenuhi
kebutuhannya, seperti alat dapur serta pisau dan tombak. Kelihatannya
bahwa membayar upeti (tribute), ke kerajaan atau tukar barang kepada
pengantar atau pedagang, supaya orang Terang dari hilir sungai tidak perlu
masuk dan mengganggu orang Rimba di kawasan tradisional. Menurut
pengamatan seorang eksplorir pertama dari Eropa, orang Rimba
digambarkan sebagai orang yang tanpa dosa dan kebudayaannya yang
unik. Memang kebudayaan dan kosmologi sangat berbeda. Walaupun
kelihatannya struktur masyarakat sederhana, kebutuhan mereka dipenuhi
setidaknya selama 6 sampai 10 generasi, atau sekitar 300 sampai 500
tahun, menurut sejarah lisan orang Rimba.
Masyarakat Rimba menganut sistem kekerabatan matrilineal dan
pologini. Matrilineal, artinya saudara perempuan tinggal bersama di
kelompok orang tua dan saudara laki-laki harus ikut kelompok isterinya.
Pologini artinya suaminya boleh mempunyai hubungan dengan beberapa
istri Alasannya perempuan subur, mandul, dan janda harus dilindungi
sebagai sumber hidup. Kelihatannya tanggung jawab laki-laki berat dan
pada tingkat harapan hidup laki-laki lebih rendah dibandingkan dengan
perempuan.
Dampak perubahan zaman sekarang terhadap kebudayaan mereka
sangat besar, dewasa ini lingkungan tradisionalnya semakin lama semakin
sempit oleh penebangan dan perkebunan. Akan tetapi mereka tetap
67
bertekad mengikuti aturan dan budaya yang diwariskan dari nenek
moyangnya.
Kelihatannya program transmigrasi, menebang hutan serta
memburu fauna dan mengambil flora oleh orang Terang, berdampak
negatif pada kebudayaan orang Rimba. Akan tetapi orang Rimba sudah
beradoptasi supaya bertahan pada masa depan. Orang Rimba sudah
mengambil getah pohon karet dan berencana kultivasi kelapa sawit, untuk
menaikkan penghasilan. Kelihatannya mereka beradopsi kembar kultur.
Menurut Motto Indonesia: “Bhinneka Tunggal Ika”, artinya
berbeda beda tetapi tetap satu juga, membolehkan diversitas tetapi
kelihatannya tidak selalu terjadi dan nilai-nilai mereka tidak selalu
dihormati.
2. Saran
Orang Rimba mengalami kesulitan untuk bertahan dalam
lingkungan yang muncul dari interaksi dengan para pendatang.
Transmigran menggunakan tanah tradisional orang Rimba tanpa
memperhatikan kelangsungan hidup orang Rimba yang selama ini
nomaden, yang mencari sumber kehidupan dengan mengandalkan hutan.
Kebudayaan orang Rimba kurang dihormati dan dihargai.
Sepatutnya pendatang yang selama ini menggunakan tanah
tradisional orang Rimba memberikan sesuatu ganti-rugi. Salah satu
jalurnya adalah orang Rimba mendapat ilmu (knowledge) yang relevan dan
68
sesuai dengan keinginannya untuk bertahan di lingkungan pasca
tradisional. Artinya pendidikan yang sesuai dengan budaya nomaden.
Di Indonesia sudah terdapat Kantor Pos Keliling dan Puskesmas
Keliling, sebaiknya juga dibentuk Sekolah Keliling yang diperuntukkan
orang nomaden dengan kurikulum terfokus mengenai kehidupan mereka di
hutan dan materi pelajaran yang lebih sesuai dengan orang Rimba untuk
mengatasi masalah hubungan dengan orang luar.
Lebih cocok ilmu budaya orang Rimba, orang Batin Sembilan dan
suku lain dimasukkan dalam pelajaran di pendidikan supaya seluruh
kekayaan budaya Indonesia dihormati, sesuai dengan motto Indonesia
“Bhinneka Tunggal Ika”, atau berbeda beda tetapi tetap satu juga.
Semua suku perlu habitat atau lingkungan yang cukup aman, tetapi
kelihatannya tidak ada cukup input orang Rimba mengenai lingkungan
mereka. Misalnya, sangat penting bagi pemerintah sebelum merubah
lingkungan untuk mendapat nasihat dari orang Rimba mengenai tanah
nasional. Melakukan interaksi itu adalah satu hal yang sangat positif.
Kelihatannya dampak kerusakan habitat oleh orang Rimba tidak
signifikan, tetapi dampak HPH, transmigrasi, pembangunan perkebunan
besar perlu pengawasan yang lebih ketat.
Suku tradisional perlu sertifikat otentik sama dengan yang diterima
oleh perusahaan, maupun individu luar supaya tidak ada kesalahpahaman
mengenai batasan tanah. Hak sipil, adat atau HAM belum cukup dihormati
terhadap orang Rimba oleh orang luar.
69
Orang Rimba jarang mendapat harga yang sesuai atau seimbang
dengan harga pasar. Sebenarnya, memberi nasihat kepada orang Rimba
mengenai harga pasar akan dihargai, supaya mereka tidak merasa ditipu.
Orang Rimba ingin bekas tanah HPH dikembalikan, supaya tanah itu
digunakan sebagai ganti rugi hutan yang ditebang liar, supaya bisa
ditanami karet.
Pada waktu dahulu, sudah jelas bahwa orang Kubu direndahkan
oleh orang desa maupun kota. Mereka juga orang Indonesia, yang sering
tidak dapat kartu sehat, walaupun mereka mempunyai hak sebagai warga
Indonesia. Ini salah satu dari sekian banyak contoh kepada masyarakat
luas.
Orang Rimba membangun ilmu mengenai hutannya yang lebih
maju dibandingkan dengan orang luar. Disini merupakan kesempatan
untuk melakukan program kerjasama antara orang luar dengan orang
Rimba. Menyalahgunakan kesempatan ini akan merugikan manusia
selama-lamanya.
70
DAFTAR PUSTAKA
Andaya, L. Y. 2001, The search for the 'origins' of melayu in Journal of
Southeast Asian Studies, Oct p315 Singapore University Press,
Singapore
Andaya, W. A. 1993, To live as Brothers, University of Hawaii, Honolulu
Andree, K. (ed.) 1874, Das Welt der Orang Kubus auf Sumatra, Globus,
Zeitschrift fur Länder und Völkerkunde, Friedrich Bieweg und Zohn,
Braunschweig
Ahimsa-Putra, H S. 2001, Lévi-Strauss, mitos dan karya sastra, Galang Press,
Yogyakarta
Alasuutari, P. 1996, Researching Culture, qualitative method and cultural
studies, Sage, London
Cassirer, C. 1987, Manusia dan Kebudayaan: Sebuah esei tentang manusia,
PT Gramedia, Jakarta
Damsté, H. T. 1901, Een Maleische Legende Omtrent De Afstammeling Der
Vorsten Van Djambi En De Geschiedenis Der Oerang Koeboe –
tijdschrift voor het Binnenlandsch Bestuur twintigste deel nos 1-6
Kolff dan Co, Batavia
Djoewisno, MS 1988, Portret Kehidupan Masyarakat Badui, SAS, Jakarata
Dongen v. 1910, De Koeboes In De Onderafdeling Koeboestreken Der
Residentie Palembang, article in Bijdrage tot de Taal -, Land-, en
Volkenkunde (63:191-335)
Dove M. 1997, Manusia dan Alang-Alang di Indonesia, Gadja Mada
University Press, Yogyakarta
Lee R, - R Lee and De Vore (eds) 1968, Man the Hunter, article What hunters
do for a living, or, how to make out on scarce resources, Aldine,
Chicago
Spence H, -Etzioni-Halevy E dan Etzioni A (eds)- --, Social Change, article
in The Evolution of Societies, Basic Books, New York
Smelser, N., -Etzioni-Halevy E dan Etzioni A (eds)- --, Social Change,
article in Towards a Theory of Modernization, Basic Books, New
York
71
Sagimun, 1985, Adat Istiadat Daerah Jambi, DPK, Jambi
Forbes, H. O. 1885, “On the Kubus of Sumatra”, The Journal of the
Anthropological Institute of Great Britain dan Ireland Vol XIV,
Trűbner dan Co, London
Geertz, H. 1981, Aneka Budaya dan Komunitas di Indonesia, Yayasan Ilmu-
Ilmu Sosial dan FIS-UI, Jakarta
Geertz, C. 1992, Tafsir Kebudayaan, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
____________. 1998, After the Fact, Dua Negeri, Empat Dasawarsa Satu
Antropolog, LkiS, Yogyakarta.
____________. 1977, Penjaja dan Raja, perubahan sosial dan modernisasi
ekonomi di dua kota Indonesia, Gramedia, Jakarta
Gennep van, A. 1960, The Rites of Passage, Routlege and Kegan Paul,
London
Hagen von, B. 1908, Die Orang Kubu auf Sumatra, Staedtischen Voelker
Museum, Frankfurt am Main, Joaeph Baer und Co.
Ihromi, I. 1996, Antropologi Budaya, Yayasan Ober Indonesia, Jakarta
Idris Djakfar, H. 2001, Menguak Tabir Prasejarah Di Alam Kerinci,
Pemerintah Kabupaten Kerinci, Jambi
Kuper, A. 1991, Anthropology and Anthropologists the modern British
school, Routledge, New York
Koentjaraningrat. 1985, Javanese Culture, Oxford University Press,
Singapore
______________. 1985, Beberapa Pokok Antropologi Sosial, Dian Rakyat,
Jakarta
______________.1990, Sejarah Teori Antropologi I, Universitas Indonesia,
Jakarta
______________.1990, Sejarah Teori Antropologi II, Universitas Indonesia,
Jakarta
McKinnon, E. 1992, Malayu Jambi Interlocal dan International Trade (11th
to 13th century), Seminar Sejarah Malayu Kuno, Jambi
72
Magnis-Suseno, F. 1977, Javanese Ethics and World-View, the Javanese idea
of the good life, Gramedia, Jakarta
Muntholib S. 1995, Orang Rimbo: Kajuan Struktural – Fungsional
Masyarakat Terasing di Makekal, Provinsi Jambi. Disertasi,
Universitas Padjadjaran Bandung Indonesia
Muntholib, S. Teamleader 1999, Kubu Development Study, pusat penelitian
IAIN Sulthan Taha Saifuddin, Jambi
Persoon, G. A. 1989, The Kubu and the Outside World, The modification of
Hunting and Gathering, article in Antropos 84
Pelto, P. 1970, Anthropological Research, The Structure of Inquiry, Harper
dan Row, New York
Pranowo, B. 1988, Steriotip Etnik, Asimilasi, Intergrasi Sosial, Pustaka
Grafika Kita, Jakarta
Spradley, J. 1997, Metode Etnografi, Tiara Wacana, Yogyakarta
Schoor, H. J., De mens is oneindig kneedbaar, article in De Volkskrant, 27
September 2003, reflex page 14, Amsterdam
Sandbukt, Ø. 1984, Kubu Conceptions of Reality, Asian Folklore Studies Vol
43 (85-98) Scandinavian Institute of Asian Studies , Copenhagen
______________. Ingold, Riches dan Woodburn(eds) 1988, Tributary
tradition and relations of affinity and gender among the Sumatran
Kubu article in Hunters and Gatherers 1, history, evolution and social
change. University College, London
______________. 1988, Resource Constraints and relations of appropriation
amoung tropical forest foragers; The case of the Sumatran Kubu
article in Reseach in Economic Anthropology, Volume 10 pages 117-
156, JAI Press
______________. 1991, Precolonial Populations dan Polities in Lowland
Sumatra. An Anthropological Perspective. Kabar Seberang No22
Radcliff-Brown, A.R. 1980 , Struktur dan Fungsi dalam Masyarakat Primitif,
Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur
______________. 1922, The Andaman Islanders, Cambridge University
Press, London
73
Vlekke, B. 1947, Geschiedenis van den Indische Archipel, Romen, Roermond
Waterschoot van der Gracht, W. A. 1915, Eenige bijzonderheden omtrent de
oorspronkelijke orang koeboe in de omgeving van het Doeabelas
Gebergte van Djambi, Tijdschrift van het Koninklijk Aardrijkskundig
Genootschap, tweede serie deel XXII, Brill, Leiden
Wellan, J.W.1925, Het Eiland Berhala Bij Djambi, Tijdschrift van het
Koninklijk Aardrijkskundig Genootschap, derde serie deel XLII, Brill,
Leiden
Weintré, J. J. 2001, Krisis Ekonomi Masyarakat Indonesia pada Lapisan
Bawah, Studi Lapangan Universitas Muhammadiyah dan ACICS,
Malang
Winter. 1901, Ook Onderdanen Onze Koningin (een bezoek aan de Tamme
Koeboes), De Indische Gids. Staat en Letterkundig maandschrift 23ste
jaargang, J H de Bussy, Amsterdam
74
Tabel 1 Jenis Tumbuhan Yang Bermanfaat Bagi Orang Rimba
No Jenis Tumbuhan Komsumsi Ekonomis Obat Bagian yang
bermanfaat
1 Gadung √ Umbi
2 Tubo ubi √ Umbi
3 Keladi √ Umbi
4 Buah kasai √ Buah
5 Buah tampui √ Buah
6 Kuduk biawak √ Buah
7 Kaki nyamuk √ Buah
8 Duku √ Buah
9 Durian √ Buah
10 Embacong √ Buah
11 Cupak √ Buah
12 Manggis √ Buah
13 Bedaro √ Buah
14 Puar √ Buah
15 Aren √ Buah
16 Kemang √ Buah
17 Petai √ Buah
18 Bayih √ Batang
19 Manau √ Batang
20 Rotan sabut √ Batang
21 Rotan sego √ Batang
22 Rotan semut √ Batang
23 Rotan cacing √ Batang
24 Rotan tebu-tebu √ Batang
25 Rotan gelang √ Batang
26 Rotan suto √ Batang
27 Rotan jeruang √ Batang
28 Rotan cincin √ Batang
29 Rotan balam √ Batang
30 Bedaro putuh √ Akar
31 Selasih √ Akar
32 Sirih hutan √ daun
33 Ketepeng √ Daun
34 Tebu punggak √ Batang
35 K. Sakit pinggang √ Kulit
36 Pisang-pisang √ Batang
37 Damar K. badak √ Daun
38 Selusuh bangkai √ Batang
39 Keduduk √ Buah
40 Kayu pengasih √ Batang
LAMPIRAN
75
Tabel 2. Jenis (Species) Buah-Buahan Yang Dimanfaatkan
No Nama Lokal Nama Latin Familia Status
Keberadaan
(Stock)
1 Durian Durio Zebetinus L Bombacaceae Banyak
2 Cempedak Arthocarpus Mitegra Sedang
3 Tungau - Jarang
4 Rambutan Nephelium Lapchium Banyak
5 Tampui Phobia SP Jarang
6 Salak Hutan Zalacca Sumatraesis Jarang
7 Macang Rimbo - Banyak
8 Duku Lancium Domesticium Sedang
9 Langset Lansiun SP Sedang
10 Air-Air Lansium SP Sedang
11 Rambai - Sedang
12 Ketimun Culumis Sativus Jarang
Tabel 3 Jenis (Species) Tumbuhan Konsiae (Getah) Yang Dieksploitasi
No Species Familia Nama Lokal Status Keberadaan
(Stock)
1 Calamus SPP Palmae Getah Jernang Sulit
2 Calamus SPP - Getah Balam Sulit
3 Hevea Brasiliensis Rabiacere Karet Banyak
Tabel 4. Kelompok Tumbuhan Tesie Hutan Komersil Yang Dieksplotasi
No Nama Lokal Species Familia Status Keberadaan
(Stock)
1 Rotan Getah Calamus SP Palmae Jarang
2 Rotan Sego Arthocarphus Mitegra Palmae Jarang
3 Rotan Jeruang Palmae Jarang
4 Rotan Manau Palmae Jarang
5 Rotan Suni Palmae Jarang
6 Rotan Jati Palmae Sulit
76
Tabel 5. Kelompok Species Tumbuhan Papan (Bangunan)
Yang Memanfaatkan Untuk Rumah
No Nama Lokal Species Familia Bagian Di
Ambil
Status
Stock
1 Kulit Terap Doshocarpus SPP Kulit, Batang
2 Rambutan Nephilium Lapian
3 Serdang Nephilium Lapian Palmae Dapur untuk atap Sedang
4 Aro Sedang
5 Cempedak Anthogarfus Intersa Palmae Sedang
6 Kelat Zalacca Sumatraesis Sedang
7 Balam
8 Meranti
Tabel 6. Jenis Species Tumbuhan Yang Dimanfaatkan
Untuk Sumber Pangan
No Nama Lokal Nama Latin Familia Status Keberadaan
(Stock)
1 Padi Pauh Oriza Sativa Poacere Jarang
2 Jagung Zea Mays Poacere Jarang
3 Ubi Kayu Menihot Uthilissima Rubiacere Banyak
4 Ubi Jalar Hamoea Batatas Jarang
5 Gadung Phobia SP Orang Dusun
6 Tebu Saccerum SP Graminae Jarang
7 Pepaya
8 Cabe Rawit Capsiae
9 Ketimun Cucumis SP
10 Keladi Calocisi SP Jarang
Tabel 7. Jenis Species Fauna Terestrial Yang Dimanfaatkan
Diburu dan Dijerat
No Nama Lokal Species Kegunaan Status Keberadaan
(Stock)
1 Babi Hutan Makan/Jual Banyak
2 Tenuk Makan Jarang
3 Rusa Makan/Jual Jarang
4 Kancil Makan Jarang
5 Tangue Makan Jarang
6 Napul Makan Jarang
7 Kijang Makan Jarang
8 Kera Dijual Jarang
9 Monyet Dijual Jarang
10 Kucing Hitam Dijual Sedang
77
Tabel 8. Jenis Species Fauna Reptika Dan Ampibie
Yang Dimanfaatkan dan Dieksploitasi
No Nama Lokal Species Kegunaan Status Keberadaan
(Stock)
1 Biawak Makan/Kulit Jual Jarang
2 Labi-Labi Jual/Makan Sulit
3 Landak Makan Sedang
4 Babak Makan Sedang
5 Ular Sawo Makan/Kulit Jual Sedang
6 Kura-Kura Jual Sedang
Tabel 9. Jenis Species Fauna Burung Yang Dipikat Dan Dimanfaatkan
No Nama Loakal Nama Latin Kegunaan Status Keberadaan
Stock
1 Engang Dimakan Sedang
2 Kuao
3 Dugang
4 Ayam Hutan Ayam-Ayam
5 Bubut
6 Punai
Tabel 10a. Jenis (Species) Tumbuhan Obat-Obatan Yang Dimanfaatkan
Orang Rimbo Sungai Keruh Dan Sungai Serdang
No Nama Lokal Nama Latin Famili Status
Keberadaan
(Stock)
1 Bedaro Putih Euracum Equesitifilia - Jarang
2 Kayu Bengkak Belum Terindentifikasi - Jarang
3 Kayu Obat Kepala Belum Terindentifikasi - Jarang
4 Akar Selusuh Jarang
Tabel 1 s/d 10a adalah hasil Penelitian Kerinci Seblat Integrated Conservation and
Development Project Kerjasama Pusat Penelitian IAIN Sulthan Thaha Syaufuddin
Jambi Tahun 1999.
78
Tabel 10b. Jenis Tanaman Potensial di Taman Nasional Bukit Duabelas
sebagai Bahan Baku Obat-Obatan
(Hasil Penelitian Tim Fakultas Kehutanan IPB Tahun 2000)
Jenis Tumbuhan Khasiat
Pulai (Alstonia scholaris) Obat demam, tonikum, perut kembung,
malaria/penyubur rambut, sakit
gigi/mules/sesak nafas.
Pinang (Areca catechu) Sakit kuning, rheumatik, patah tulang,
pemacu enzim pencernaan seluruh
badan, penurun panas, menambah nafsu
makan.
Pasak Bumi (Eurycoma longifolia) Memperkecil pupi mata, obat cacing,
penyubur kandungan, tonikum.
Kayu Selusuh (Fircus latifolia) Divretik, antipiretik, malaria, aprodis.
Merajakane (Fircus deltoidea) Memperlancar kelahiran
Petaling (Ochanostachys amentacea) Keputihan
Akar Kunyit (Arcangelisia Flave) Demam, pembersih badan, setelah
melahirkan/sesak nafas
Potoi (Parkia roxburghii) Kaminatif, anti diare/penahan kencing
Akar Penyegar (Smilax zeylanica) Antivacum, frambusia, monorrhagia,
obat kuat, penyubur kandungan.
Kemenyan Hitam (Styrax benzoin) Obat pereda sakit, cacingan
79
Peta 1. Sumatera
80
Peta 2. Sumatera Tengah
81
Peta 3. Lokasi Penelitian Orang Rimba dan Orang Batin IX
82
Peta 4. Teori Transmigrasi Prasejarah menurut Peter Bellwood
83
Taman Nasional Bukit Duabelas
84
Foto.1 Tempat kediaman sampaeon, Orang Rimba di bukit Duabelas
85
Foto.2 Pohon dengan sarang tawon dengan tanda pemilikan
Foto.3 Sekolah Dasar khusus untuk Orang Rimba di Air Hitam
Foto.4 Penulis duduk bersama dengan Tumenggung Tarip
86
Foto.5
Tempat Masak
Orang Rimba
Foto.6
Kelompok Gera di Bukit
Duabelas
87
Foto.7 Pemukiman Kelompok Gera di Bukit Duabelas
Foto.8 Pemukiman Kelompok Gera di Bukit Duabelas
88
Foto.9 Orang rimba menggarap ladangnya
Foto.10 Orang rimba membagi hasil buruannya
89
Foto.11 Orang Koeboe di Ajer Itam Jambi tahun 1915
Foto.12 Orang Koeboe di pemukimannya tahun 1915
90
Foto.13 Laki-laki kelompok Orang Koeboe tahun 1915
Foto.14 Foto bersama Penulis dengan Kelompok Gera tahun 2003

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar