Minggu, 09 Januari 2011

FILSAFAT PENDIDIKAN

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam perkembangan sejarah filsafat pendidikan kita mengenal banyak aliran yang memiliki kecenderungan yang bersifat konservatif. Aliran filsafat yang memiliki kecenderungan konservatif itu misalnya adalah aliran pendidikan esensialisme dan parenialisme. Namun demikian, sejarah filsafat juga mencatat kelahiran antitesa terhadap filsafat yang memiliki kecenderungan yang bersfat konservatif adalah aliran filsafat pendidikan yang bersifat progresif. Salah satu aliran yang bersifat progresif adalah aliran filsafat pendidikan kritis yang terutama berkembang di Amerika Selatan. Dalam bagian ini dibahas aliran filsafat kritis. Aliran ini lahir dari adanya perkembangan sejarah sosial, budaya, ekonomi dan politik di Amerika Selatan yang terjadi pada abad 20 lalu.pada awal dekade 1970an, seorang tokoh pendidikan yang berasal dari Brasil, Paolo Freire mendeklarasikan berdrinya suatu airan filsafat pendidikan yang secara kritis dan revolusioner berusaha memperbaiki kondisi sosial, budaya, ekonomi dan politik yang tertindas pada masyarakat kelas bawah di Amerika Selatan. Hal ini menunjukkan bahwa mereka mengalami penindasan oleh sekelompok kecil kaum elite kapitalisyang menguasai akses ke sebagian besar sumber daya negara. Ketimpangan struktural ini menyebabkan rakyat kecil yang merupakan sebagian besar penduduk negara tertindas dalam memperoleh hak pencapaian kesejahteraan hidup.
Menurut Paulo Freire akar dari masalah sosial, politik, ekonomi, dan budaya adalah suatu sistem, pola dan praktik pendidikan yang tidak memberi kesempatan pada rakyat kecil untuk melakukan perubahan-perubahan dan pembaharuan sosial, politik, ekonomi dan budaya. Oleh karena itu perlu diwujudkan sistem pola dan praktik pendidikan yang lebih memberi kesempatan pada mereka untuk melakukan perubahan dan pembaharuan. Penganut pandangan kritis memiliki pandangan bahwa nilai-nilai yang ada dalam suatu sistem sosial merupakan representasi atau perwakilan kepentingan-kepentingan segelintir elite sosial tertentu.
Tujuan utama dari pedagogi kritis adalah untuk menumbuhkan kesadaran kritis pada siswa. Dalam konteks problem moral di sini, yang perlu dibangun adalah kesadaran bahwa di sekolah, kampus, media, masyarakat dan bahkan keluarga seringkali terjadi praktik penanaman nilai-nilai ketidakjujuran, korupsi dan terorisme. Hal tersebut kemudian perlu dilanjutkan dengan upaya membangun kesadaran ada diri siswa untuk dapat melihat dan menilai secara kritis atas korupsi dan problem sosial sejenisnya. Dua kata kunci yang digunakan dalam pedagogi kritis untuk membangun kesadaran kritis diri tersebut adalah dialog dan pelibatan sosial, bukan indoktrinasi ideologis.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana latar belakang sejarah filsafat pendidikan kritis?
2. Aliran apa saja yang mempengaruhi filsafat apa saja yang mempengaruhi filsafat pendidikan kritis?
3. Bagaimana pemikiran filsafat pendidikan kritis Paulo Freire?
4. Bagaimana gerakan pendidikan masyarakat bebas dari sekolah?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui latar belakang sejarah filsafat pendidikan kritis.
2. Untuk mengetahui aliran yang mempengaruhi filsafat apa saja yang mempengaruhi filsafat pendidikan kritis.
3. Untuk mengetahui pemikiran filsafat pendidikan kritis Paulo Freire.
4. Untuk mengetahui gerakan pendidikan masyarkat bebas dari sekolah.

BAB II
FILSAFAT PENDIDIKAN KRITIS

A. Latar Belakang Sejarah Filsafat Pendidikan Kritis
Penelusuran historis tentang filsafat pendidikan kritis atau yang dikenal dengan sebutan filasafat pendidikan radikal tidak dapat dilepaskan begitu saja dengan perkembangan sejarah sosial, budaya, ekonomi, dan politik di Amerika Selatan yang terjadi pada abad ke 20 lalu. Pada awal dekade 1970an, Paolo Freire, seorang tokoh pendidikan dari Brasil mendeklarasikan berdirinya suatu aliran filsafat pendidikan yang secara kritis dan revolusioner berupaya memperbaharui kondisi sosial, budaya, ekonomi, dan politik yang tertindas pada masyarakat kelas bawah di Amerika Serikat. Kondisi sosial, budaya, ekonomi, dan politik di sebagian besar rakyat yang tinggal di negara-negara Amerika Selatan menunjukkan bahwa mereka mengalami penindasan oleh struktur sosial, budaya, ekonomi, dan politik yang diciptakan oleh sekelompok kecil elit kapitalis yang mengusai akses ke sebagian besar sumber daya negara. Ketimpangan struktural ini menyebabkan rakyat kecil yang merupakan sebagian besar penduduk negara terpinggirkan dalam memperoleh hak pencapaian kesejahteraan hidup.
Melalui sebuah karya monumental yang berbentuk sebuah buku berjudul Pedagogy of the Oppresed (Pendidikan bagi Kaum Tertindas) yang diterbitkan pada tahun 1970, Paolo Freire mengembangkan suatu filsafat pendidikan yang bertujuan membangkitkan kesadarn politik menuju pada upaya-upaya tindakan pemecahan masalah sosial, budaya, ekonomi, dan politik untuk mencapai kesejahteraan rakyat miskin yang terpinggirkan. Pandangan filsafat pendidikan kritis yang sedemikian revolusioner ini banyak mendapat simpati dan para praktisi pendidikan dalam negara-negara yang sedang berkembang dan miskin. Paolo Freire memiliki pandangan bahwa sebab-sebab dari masalah sosial, budaya, ekonomi, dan politik adalah berakar pada suatu sistem, pola, dan praktik pendidikan yang tidak memberi kesempatan kepada rakyat miskin untuk melakukan perubahan-perubahan dan pembaharuan-pembaharuan sosial, budaya, ekonomi, dan politik.

B. Aliran Filsafat yang Mempengaruhi Filsafat Pendidikan Kritis
Aliran filsafat kritis yang memberi pengaruh kuat terhadap perkembangan filsafat pendidikan kritis adalah gerakan sosial anarki, filsafat sosial marxisme, dan aliran psikoanalisis. Gerakan anarki yang berkembang pada abad ke 19 M sampai dengan abad ke 20 M yang menentang pemberlakuan sistem persekolahan negara. Menurut gerakan anarki ini, pemberlakuan sistem persekolahan negara ini akan menghambat pengembangan individual seseorang secara maksimal. Tokoh-tokoh gerakan anarkis ini antara lain adalah Leo Tolstoy, Ivan Illich, Paul Goodman, dan Jonh Dhlyer.
Aliran filsafat Marxisme juga memiliki pengaruh signifikan terhadap perkembangan filsafat kritis yang merupakan akar lahirnya filsafat kritis. Aliran filsafat Marxisme memiliki keyakinan filosofis terkait dengan pendidikan bahwa sistem persekolahan merupakan praktek-praktek yang mengasingkan induvidu yang berasal dari kelompok rakyat miskin dalam suatu struktur masyarakat industri modern. Para tokoh filsafat pendidikan yang banyak memperoleh inspirasi filsafat dari filsafat sosial marxisme adalah pakar filsafat pendidikan kritis George Counts, Theodore Brameld, dan Paolo Freire.
Filsafat sosial ketiga yang mempengaruhi perkembangan filsafat pendidikan kritis adalah filsafat sosial yang memiliki akar pada salah satu aliran besar dalam psikologi, yaitu aliran psikoanalisis yang dikembangkan oleh Sigmund Freud. Aliran filsafat sosial ini kemudian dikenal dengan sebutan aliran Psikoanalisis Freudian Kiri. Tokoh-tokoh utama aliran filsafat Psikoanalisis Freud Kiri antara lain Wilhelm Reich dan A.S. Neill. Tokoh-tokoh utama aliran filsafat Psikoanalisis Freud Kiri memiliki keyakinan filosofis bahwa diperlukan perubahan-perubahan atau perlakuan-perlakuan terhadap ciri-ciri kepribadian, perubahan-perubahan atau perlakuan-perlakuan terhadap struktur keluarga, dan perubahan-perubahan atau perlakuan-perlakuan terhadap praktek-praktek pengasuham anak yang bersifat tradisionil sebagai langkah pertama dalam upaya dalam menyeimbangkan kesejahteraan sosial dalam masyarakat.

C. Filsafat Pendidikan Kritis Paulo Freire
1. Riwayat Hidup Singkat
Paulo Freire sebagai seorang aktivis banyak terjun langsung mengembangkan pendidikan literasi (melek huruf) di daerah-daerah kumuh perkotaan Brazil. Paulo Freire semasa menjadi mahasiswa di Brazil mengambil bidang filsafat dan hukum. Puncak karir akademis Paulo Freire adalah pada saat ia menerima gelar profesor dalam bidang sejarah dan filsafat pendidikan dari Universitas Pernambuco di Recife, Brazil. Pada akhir dekade 1960an, Paulo Freire meninggalkan Amerika Selatan karena sebab-sebab yang terkait dengan masalah-masalah politik dengan pemerintahan militer di Brazil. Setelah menjalani tugas selama beberapa lama sebagai profesor tamu pada Harvard’s Center for Studies in Education di Amerika Serikat, sejak tahun 1971 Paulo Freire menjadi konsultan khusus bidang pendidikan pada World Council of Churces di Jenewa Swiss.

2. Pemikiran Filsafat Umum Paulo Freire
Secara umum, pandangan filsafat pendidikan Pulo Freire banyak didasari oleh pandangannya tentang filsafat manusianya. Filsafat manusia adalah cabang filsafat yang membahas secara filosofis tentang hakekat manusia. Paulo Freire memiliki pandangan filosofis tentang manusia yang berpijak dari suatu asumsi bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki kesadaran dan tindakan yang dapat dibedakan dengan makhluk lain, khususnya yang disebut dengan binatang. Dalam menghadapi realitas kehidupan, kesadaran dan tindakan seseorang tidak ditentukan melalui proses-proses yang berjalan secara mekanis dan deterministic, namun ia sebagai manusia memiliki kemampuan kesadaran dan tindakan yang dapat didayagunakan untuk melakukan perubahan-perubahan terhadap lingkungan.
Dalam suatu realitas sosial, kesadaran level tinggi ini membantu manusia sebagai subjek yang otonom mampu melakukan tindakan intervensi perubahan sosial dalam masyarakat mereka, melakukan refleksi terhadap hasil tindakan terhadap hasil tindakan intervensi perubahan sosial yang mereka laksanakan, dan memiliki komitmen terhadap keterlibatan mereka dalam tindakan intervensi perubahan sosial itu (Elias dan Meriam, 1984). Ini berarti bahwa dalam kehidupan sosial, masyarakat miskin atau masyarakat tertindas lain perlu diberdayakan (empowering) sehingga timbul kesadaran diri mereka untuk berubah dan melakukan tindakan intervensi perubahan sosial dalam upaya untuk mampu mengentaskan diri dari kemiskinan atau ketertindasan.
Nampak bahwa dalam pemahaman Paulo Freire tentang manusia yang memiliki kesadaran yang berbeda dari kesadaran binatang yang bersifat instingtif adanya pengaruh filsafat eksistensialisme humanis yang berkembang di regional Eropa Kontinental. Menurut filsuf Prancis Jean Paul Sartre, menyatakan bahwa yang membedakan manusia dari makhluk lain adalah kemampuan manusia untuk selalu menetapkan eksistensi atau keberadaannya melalui bantuan kesadaran yang ada dalam dirinya (Cooper, 1996).
Dalam konteks keyakinan Paulo Freire yang sangat optimis terhadap kekuatan nilai-nilai agama bagi perkembangan kesadaran dan pemberdayaan kaum tertindas Nampak adanya perbedaan yang sangat tajam dengan keyakinan filosofis Karl Marx tentang eksistensi agama dalam kehidupan sosial dan kehidupan agama. Dia menolak agama sebagai kekuatan yang mampu memberikan kesadaran dan pemberdayaan kepada kaum tertindas. Dalam hal ini Karl Marx menjelaskan bahwa agama adalah salah satu struktur sosial tempat kaum kapitalis menyinambungkan kekuasaannya.
3. Filsafat Pendidikan Kritis Paulo Freire
Menurut salah seorang tokoh filsafat pendidikan kritis adalah Paulo Freire pendidikan sebagai sebuah system dunia perbankan tergambar dalam proses pendidikan tempat siswa melakukan upaya-upaya pemrolehan pengetahuan melalui metode-metode pendidikan yang bersifat pasif (hanya menerima begitu saja), membuat klasifikasi ragam pengetahuan dalam kategori-kategori tertentu, dan kemudian melakukan penyimpanan pengetahuan yang telah diklasifikasikan itu ke dalam arsip-arsip file tertentu dalam memorinya.
Dalam konteks filsafat pendidikan kritis, ragam pendidikan yang menekankan pada kekuasaan guru sebagai pusat pemerolehan pengetahuan dan perlakuan siswa sebagai objek pasif metupakan suatu bentuk dari praktek penindasan kepada sesame manusia. Melalui pengembangan dan penerapan kurikulum yang kaku ini dapat mengakibatkan efek samping terjadinya proses alienasi (keterasingan) yang dialami oleh siswa. Kondisi alienasi dalam diri siswa dapat dilihat pada gejala kognisi dan afektif mengarah pada situasi yang menunjukkan bahwa siswa merasakan dalam dirinya ketidakterlibatan dalam proses-proses mengetahui sesuatu. Konsep-konsep filosofis kependidikan yang kemudian dapat diterapkan secara praktis ke dalam praktek-praktek kependidikan itu adalah pembebasan (libertarian), dialog (dialogie) dan pendidikan berorientasi pada pemecahan masalah. Pembebasan adalah dasar fundamental yang utama bagi berlangsungnya proses kependidikan. Dalam upaya mencapai tujuan pendidikan untuk pembebasan ini maka metode dialog dapat membantu siswa sebagai pembelajar untuk memahami situasi dan kondisi yang riil ruang hidup tempat mereka tinggal, memunculkan perenungan tentang situasi dan kondisi itu dan membuat perencanaan dan melaksanakan tindakan pemecahan masalah tekait dengan situasi dan kondisi itu.
Pendidikan yang berakar pada proses dialogis adalah pendidikan yang mengarah pada pemecahan masalah yang dimulai dari studi tentang latar belakang situasi budaya siswa sebagai pembelajar. Latar belakang situasi budaya siswa sebagai pembelajar ini berfungsi sebagai masukan (input) pada pengembangan kurikulum tentang isu-isu yang perlu untuk didiskusikan dalam proses kependidikan dan proses pembelajaran. studi tentang latar belakang situasi budaya siswa sebagai pembelajar meliputi pengungkapan tentang cara-cara berpikir kebudayaan seseorang dikondisikan atau dipengaruhi oleh hegemoni ide-ide, keyakinan-keyakinan, mitos-mitos, seni, ilmu, norma-norma, dan aspirasi politik tertentu.
Dalam konteks aktivitas pembelajaran dan pengajaran, guru dapat mengajukan suatu jenis bahan ajar sejauh disetujui oleh siswa melalui proses klasifikasi bahan ajar dan modifikasi bahan ajar. Dalam hal ini guru dimungkinkan untuk memberikan saran-saran atau anjuran-anjuran tentang suatu tema bahan ajar kepada siswa, namun guru tidak diperkenankan untuk memaksakan suatu tema kepada siswanya. Pemaksaan dianggap oleh Paulo Freire sebagai suatu pelanggaran terhadap prinsip dialog dalam proses pendidikan.
Pendidikan otentik yang dikemukakan oleh yang dikemukakan oleh Paulo Freire tidak dapat disangkal memiliki agenda keharusan-keharusan untuk melibatkan proses dan hasil pembelajaran dan tindakan-tindakan politik. Pendapat Paulo Frerie ini menunjukkan suatu gambaran bahwa proses pendidikan harus memiliki keterkaitan dengan masalah-masalah sosial politik dan berupaya untuk melakukan pemecahan masalah demi tercapainya perubahan dan pembaharuan sosial dalam masyarakat kea rah yang lebih berkeadilan.
Menurut Freire, pendidikan tidak pernah netral dan isu-isu yang terkait dengan situasi dan kondisi sosial politik. Dalam diskusi tentang situasi dan kondisi sosial politik terkini, guru dan siswa akan memperoleh pengalaman belajar mengajar yang terkait dengan kesadaran tentangkemungkinan perubahan-perubahan sosial yang mungkin untuk dilakukan melalui proses pendidikan. Pemikiran ini menggambarkan suatu pendapat bahwa pendidikan memiliki tugas utama untuk membebaskan siswa sebagai partisipan dari linngkungan hemologi struktur sosial kaum yang berkuasa. Tugas pembesan itu terkait dengan tujuan pendidikan pembebasan untuk mencpai keadilan kesejahteraan sosial bagi kaum tertindas (Ellias dan Merriam, 1984).
Diskusi kritis sebagai metode utama pembelajaran dalam filsafat pendidikan kritis Paulo Freire menunjukkan perseberangan pemikiran dengan metode pembelajaran dalam filsafat pendidikan tradisionil yang cenderung pada stategi indoktrinatif yang bersifat manipulatif. Metode pembelajaran sering juga dikenak dengan sebutan pendidikan revolusioner. Pendidikan dalam arti revolusioner ini memiliki makna yang terkait dengan tujuan pendidikan untuk mencapai perubahan-perubahan revolusioner dalam kehidupan pribadi dan sosial melalui proses dialogis. Proses dialogis ini terutama terjadi diantara orang-orang yang tertindas.
Keberpihakan pada kaum tertindas mengarahkan Paulo Freire untuk mengembangkan suatu suatu pendidikan sosial sistem pendidikan untuk orang tertindas (education of the opperesed). Pada tahap awal pengembangan pendidikan untuk orang tertindas yang memiliki perspektif revolusioner itu, Paulo Freire banyak melakukan eksplorasi dan rancangan-rancangantindakan pengembangan dalam bidang pendidikan melek huruf (literacy education) untuk orang miskin pada daerah kumuh di Negara Brazil tahun 10970an. Paulo Freire adalah salah seorang di antara sedikit orang yang diakui memiliki kontribusi penting bagi perkembangan metode-metode pembelajaran dalam pembelajaran melek huruf untuk orang miskin. Metode pembelajarn melek huruf oaring miskin yang dikembangakan oleh Paulo Freire dimulai dari model awal kata-kata, kalimat-kalimat, dan iodom-iodom yang telah dimiliki terlebih dahulu dalam diri partisipan belajar. Ini berarti bahwa dalam pembelajan melek huruf semacam itu, latar belakang kebudayaan partisipan belajar atau pembelajaran tidak dinaifkan begitu saja, namun lebih jauh lagi diinkoporasikan dalam proses pembelajaran. Ini berarti bahwa proses pembelajaran tidak mengeliminasikan partisipan belajara dari muatan-muatan pembelajaran yang diberikan.
Dalam konteks ini, di filasafat pendidikan kritis yang memiliki agenda perubahan sosial dan politik dalam kehidupan sosial nyata, sangat mengecam pandangan tradisionil dalam pendidikan yang menyatakan bahwa tugas utama pendidikan adalah untuk mewariskan nilai-nilai dan pemantapan nilai-nilai sosial budaya yang telah ada dalam masyarakat. Secara revolusioner, filsafat pendidikan kritis mengemukakan bahwa tugas pendidikan tidak untuk melakukan pewarisan nilai-nilai dan legitimasi nilai-nilai konservatif yang telah ada dalam masyarakat, tapi lebih jauh lagi adalah memiliki tugas melakukan perubahan, pembaharuan, dan pembebasan sosial sehingga masyarakat tidak terbelunggu oleh kekuasaan hegemeni tertentu yang ingin terus menerus melanggengkan kekuasaannya. Apalagi tugas itu mampu ditunaikan maka tujuan pembengunan masyarakat yang lebih berkeadilan akan tercapai.
Dalam perkembangan sejarah, pendidikan untuk orang tertindas yang dikembangkan oleh Paulo Freire banyak mendapat dukungan dari kelompok-kelompok lembaga swadaya masyarakat yang memiliki orientasi pada isu-isu tentang masyarakat tertindas, pemberdayaan kaum miskin, dan tindakan pemecahan maslah langsung terhadap problem-problem sosial.

E. Gerakan Pendidikan Masyarakat Bebas dari Sekolah
Pada masa akhir decade 1960an dan masa awal decade 1970an berkembang salah satu varian dari filsafat pendidikan kritis yang pada kontimum tertentu sangat berbasis pada filosofi anarkisme. Filosofi narkisme adalah suatu pandangan hidup yang menolak sekaligus malawan nilai-nilai dan struktur yang sudah mapan dalam kehidupan. Varian dari filsafat pendidikan kritis itu adalah gerakan pendidikan masyarakat bebas dari sekolah atau gerakan pendidikan masyarakat tanpa sekolah (deschooling society movement). Salah satu corong utama atau tokoh utama yang terkenal dari gerakan ini adalah seorang ahli pendidikan seperti Paulo Freire juga berasal dari regional Amerika selatan, namun berasal dari Negara lain, yaitu Meksiko. Tokoh utama gerakan pendidikan bebas dari sekolah adalah Ivan Illich.
Sebagai suatu gerakan pendidikan atau berbasis pada filosofi anarkisme, gerakan ini mengajukan salah satu manifesto kependidikan yang cukup membuat banyak pihak terkejut. Manifesto pendidikan yang kemudian menjadi dasar gerakan ini mengusulkan pelaksanaan eliminasi sistem persekolah formal dalam masyarakat sebagai sebuat prasyarat yang tidak dapat ditolak agar masyarakat tertindas mampu membebaskan diri dari ketergantungan pada hegemoni struktur sosial yang secara berkesinambungan menyebabkan mereka terpuruk dalam semacam “takdir” kemiskinan structural (Ellias dan Merriam, 1984).
Menurut Ivan Illich sistem persekolahan adalah factor penyebab utama keberlanjutan penindasan structural karena di sekolah para pembelajar diajarkan banyak pembelajaran yang bermuara pada ideolagi yang bersifat kapitalis. Muatan pembelajaran yang mengarah pada ideology kapitalis ini membawa pembelajar sebagai generasi muda untuk kesekian kalinya, seperti orang tua mereka, masuk lebih dalam cengkraman budaya kapitalisme yang menyebabkan mereka menjadi semacam objek sasaran penindasan lebih lanjut. Si pembelajar dalam sebuah sistem persekolahan mengalami proses keterasingan dari budaya kapitalis yang sebenarnya bukan milik mereka dan yang sebenarnya menjadi sumber kemarjinalan mereka dalam masyarakat. Dalam konteks Indonesia, pandangan Ivan Illich tentang kebudayaan kapitalis yang sudah masuk dalam kognisi sosial pembelajar, orang tua, dan masyarakat akibat eksistensi yang dominant dari sistem persekolahan dalan pendidikan, dapat dicontohkan dalam gejala-gejala seperti: siswa harus memakai seragam apabila masuk sekolah, sekolah yang baik adalah sekolah yang memiliki fasilitas dan pendanaan yang baik (spp mahal), dan standarisasi kurikulum sekolah secara nasional, regional, dan internasional.
Dalam filasaf pendidikannya, Ivan Illich berupaya mengembangkan model pembelajaran yang mampu meningkatkan kebebasan manusia, kesejajaran (equality), dan kedekatan hubungan antara manusia secara personal. Dalam hal ini Ivan Illich menjelaskan bahwa pembelajaran yang benar adalah proses yang memungkinkan timbulnya kesempatan kepada para pembelajar untuk secara bebas dan berkesadaran melakukan partisipasi dalam proses pembelajaran. Menurut Ivan Illich tidak ada seseorang pun yang memiliki hak untuk melakukan intervensi terhadap proses pembelajaran dalam diri seseorang tanpa ada persetujuan dari orang yang bersangkutan.
Berbeda dengan pola pikir yang ada pada banyak penganut dan praktisi pendidikan tradisionil, Ivan Illich berpendapat bahwa proses pembelajaran bukan merupakan hasil dari proses pengarahan dari pihak eksternal, tapi lebih sebagai hasil dari kumpulan fragmen-pragmen pengalaman belajar yang diperoleh seseorang karena ia ikut berpartisipasi dalam upaya memperoleh pengetahuan tentang kehidupan dan objek-objek kebendaan. Upaya-upaya seseorang untuk memperoleh pengetahuan itu dapat dilakukan melalui sumber-sumber belajar sebagai berikut: orang yang memiliki keterampilan pada bindang-bidang tertentu, teman sebaya atau teman seprofesi, buku-buku yang terkait dengan pengetahuan yang sedang dipelajari, dan instrument-instrumen belajar yang lain. Demikianlah, menurut Ivan Illich aspek-aspek fundamental dalam proses pembelajaran adalah pembelajaran yang dipilih dan diikuti secara bebas oleh partisipan belajar. Proses pembelajarn yang terdapat di dalamnya unsure-unsur pemaksaan akan dapat menyebabkan timbulnya masalah-masalah kependidikan dan sosial dalam diri individu yang pengaruhnya kemudian pada perlambatan perkembangan kesejahteraan masyarakat madani.
Model pembelajaran yang terdapat di dalamnya unsure-unsur kebebasan dapat dilihat pada indikator-indikator seperti perilaku belajar yang bersifat spontan, perilaku belajar mandiri (independent learing behavior), pemberian makna secara subjektif dan personal terhadap fenomena-fenomena belajar, dan munculnya energi kreatif dalam diri partisipan belajar yang dapat memberikan kekayaan intelektual, psikologis, sosial, dan spiritual.
Dalam konteks ketidaksetujuan terhadap eksistensi sistem persekolahan yang dianggap sebagai alat kapitalis birokrat untuk secara berkesinambungan menindas rakyat miskin. Ivan Illich mengajukan suatu model pendidikan baru yang terdiri dari empat jaringan belajar (learning networking) yang terintegrasi dalam konsep masyarakat bebas dari sekolah. Jaringan pertama adalah jaringanyang memberikan fasilitas pembelajaran kepada para patisipan belajar. Fasilitas pembelajaran itu antara lain adalah buku-buku yang berisi dengan pengetahuan yang relevan dengan minat partisipan belajar, radio,televise, computer, dan peralatan laboratorium. Jaringan kedua adalah jaringan yang memberikan kemudahan bagi para partisipan belajar untuk saling bertukar pengetahuan dan keterampilan yang menjadi minat utama mereka. Dalam jaringan pertukaran pengetahuan dan keterampilan ini, para partisipan belajar yang memiliki keinginan untuk memperdalam suatu jenis keterampilan tertentu dapat membangun reaksi sosial dengan para ahli pada bidang-bidang yang relevan. Jaringan ketiga adalah pengembangan kelompok belajar kooperatif dengan orang-orang yang memilliki minat dan kemampuan yang sama. Jaringan keempat adalah pengembangan sistem pendidikan mandiri yang berkreativitas dalam kerangka tujuan mencapai pemecahan masalah-masalah bersama yang sulit untuk dipecahka



BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Dasar filosofi filsafat pendidikan kritis dapat ditelusuri dari aliran-aliran filsafat social yang memiliki pandangan filsafat social yang bersifat kritis. Pemikiran filsafat pendidikan kritis dapat digambarkan sebagai sebuah kritik yang sangat radikal terhadap prinsip-prinsip dan praktek-praktek pendidikan tradisionil. Manifesto kependidikan yang kemudian menjadi dasar gerakan bebas dari sekolah mengusulkan pelaksanaan eliminasi system persekolahan formal dalam masyarakat sebagai sebuah prasyarat yang tidak dapat ditolak agar masyarakat tertindas mampu membebaskan diri dari ketergantungan pada hegemoni struktur social yang secara berkesinambungan menyebabkan mereka terpuruk dalam semacam “takdir” kemiskinan structural.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar